Langkah Baru
Satu untuk yang kesekian
Jumat, 11 November 2011
Mimpi
Yang di dalamnya kami terlindas
Dalam kebesaran-Nya kami berputus asa
Mimpi...
Yang kami tidak sadar
Mana yang nyata, yang fana
Mimpi?
Mimpi-mimpi mana lagi? Yang tersisa...
October 07, 2011
hijau
dia yang memudar
dengan citra bersinar
benamkan sekali lagi pada akar
ayo kita bunuh
pucuk2 revolusi sunyi
pencuri kami
bung! ayo bung!
merah kuning biru harus pergi
September 16, 2011
Di kubur nanti
Dalam sepi merajalela
Dalam kubur sempit
Hitam pekat
Kuat dan mutlak
Disana dalam sesak
Darah dulu masih ada
Untuk dibagikan
Atau sekedar bunuh diri
Kami mati
Sudah mati
Tak ada arti
Tak punya
Kami butuh hidup
Untuk sekedar perbaiki
Senyum tak perlu lagi
Tak lagi kami jadi atheis
Sepi ini belum menjadi
Tunggu saja
Ketika bosan sendiri
Kami mati
Kami menggila
Mana?
Dimana kami?
Sudah lenyap barangkali
October 02, 2011
(ini baru) GALAU
pujanggakah?
pengkhianatkah?
tak tahu jiwa mana yang memudar
putihkah?
hitamkah?
ada dimana kita, dalam persaudaraan semu
persahabatan palsu
taring perdamaian
Tuhan yang mana?
yang selama ini kita cari
dalam pembelaan ego
tak tahu sampai mana lidah berkelit
membela diri
tak tahu tobat mana kami berlabuh
lagi dan lagi
tak tahu jalan mana lagi
ini takdir yang saya tentukan sendiri
salah-benar
benar-salah
....
...
.,.,.,.,
!!!!!!!
September 15, 2011
Pilihan
Dengan siapa?
Saya tak mau ke neraka
Tak ingin juga kesepian di surga
Ke neraka bersama
Ke surga sendiri
Adalah 2 pilihan termudah
Saya ingin ke surga
Bersama dia
Dia yang tadinya ku ajak
Ke neraka bersama
August 24, 2011
lorong gelap
ini roda
ini roda
dan saya cuma penakut
Menerobos malam?
dalam adrenalin yang bekerja
ketakutan yang sangat
dan rindu pada ibu
aku pulang
aku pulang ibu
aku tak lebih takut ada lorong-lorong malam
August 17, 2011
pertanyaan? (cahaya, cermin, bunyi, hitam)
dimana terakhir kulihat?
aku tak berupa tapi ada
ada dalam cermin
CERMIN
berapa kali kupecahkan?
dalam sunyi
dunia tanpa bunyi
BUNYI
kebisingan apalagi terakhir kudengar?
suara tawa dan candamu
sekarang yang ada lorong hitam
HITAM
ada yang lebih pekat?
dari legamnya hari-hari kedepan
July 31, 2011
AYAH
aku ingin besar
menjamah dunia
menghajar dia
dia
dan dia
ayah!
jangan menangis
peluhmu berarti
banyak arti
jangan hirau
aku akan berdiri
ayah!
aku ingin besar
berkuasa
karena aku sudah muak
dengan penguasa
ayah!
aku benci politik
tapi aku akan berpolitik
agar anakku tak benci
dan dicintai satu negeri
dari Maroko sampai Port Moresby
ayah...
aku akan berdiri
sebagai idealis
meski diusir negeri sendiri
terima kasih ayah
July 27, 2011
Aku tapi Bukan Aku si jalang
Merajut tawa dalam kesendirian
Aku
Akulah bencimu
Intrik berlalu
Ada
Pergi
Intrik berlalu lagi
Satu tak cukup
Keringat ini memang tak cuma satu
Aku
Aku lelah
Garis
Lurus
Hilang dalam berkas darah semalam
Acak tak berpola
Kau
Kau mati tak sengaja
Aku
Akulah bencimu
Aku
Akulah pendendam
July 17, 2011
Malam
aku mau liar!
Kubuang tawa
kubuang sesal
jadi saja
jadilah aku terjahat
Liar!
aku mau tikam
malam penat penuh dengki
Biar darah...
bersimbah
Biar mati
kesal
HAHAHAHA
May 21, 2011
Buta
semua sirna segala lenyap
terima kasih Tuhan
saya buta
May 21, 2011
yang tua dan yang gila
Yang dua gila
Lengkap derita untuk cerita
Tanpa tawa, kasih ibu tetap sepanjang masa
Mana yang lebih gila?
Yang satu? Atau yang dua?
Yang dua gila nyata
Tak punya rasa
Tapi tampak biasa
Yang satu tak gila
Tapi tampak iba
Urusi dua yang gila
Kasih ibu sepanjang masa
Masa muda masa tua
Hingga masa tiada bermasa
Yang tua takut tiada
Karena yang gila takut nelangsa
Yang tua adalah ibu
Yang dua, dua anak gila
May 5, 2011
kamar hijau 4 persegi
2 x 2 semayam disana
penuh buku mungkin rumus tertera juga
kamar hijau mungkin kusam
tidak rapuh alasku beton
dinding beton
satu pintu tak berjendela
tak beranjang anehnya berasmara
penuh dosa
kadang luka
aku misterius?
jangan salah
biasa saja
seperti mereka
kamar hijau
cecarku berdiam
mengusapimu tidur
terlelap sebelum kau terjaga
kemayu malam kuantar saja kau pulang
April 29, 2011
MATI
MATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATI
MATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATI
MATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATI
MATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATI
MATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATI
MATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATI
MATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATI
MATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATI
MATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATIMATI
April 2, 2011
Dernier Poème
sepi...
tuhan dan takdir tak ditemu
menghantam bagaikan jutaan impuls
dilingkari bayangan
mati pergi mati pergi
duri jadi tak punya arti
tanpa harus meringis
kelana sudah pergi
kami siap dicabik
tuhanlah mulia kami tidak
kami siap dimaki
"dasar banci! bisanya bunuh diri!"
kami tak harus dicari
besok dikoran
ekspos saja oleh media
dan tahu apa mereka!
biar kami gila
dalam kejemuan
sepi...
peluru biar membirahi
atau gantung diri
lors de la 5e
commémorer le 5ème année
January 4, 2011
sebelum gugur
yang lagi-lagi kau beritakan
dan duka yang berserak
mengerak
karena kita bodoh lalu jadi bangkai
terhalang asap-asap kabut menutupi lalu jadi bangkai lagi
berteriak tentang mawas
menari-nari
dan hidup bersama pelipur
harap sebelumnya gugur
jadikan kami obor
biar bakar semua kelakar
jadikan kami cahaya
biar obrak-abrik gelap sekalian
sebelum gugur
sebelum abu dari bara
December 23, 2010
FINAL
diwaktu yang datang
dengan angin surga
dan isak tangis
aku adalah sumpah
yang kau teriaki dalam hati
aku adalah jeritan
jelmaan risau kalbumu
pulang...
pulanglah sana
tanah dambaan
remuk...
remuk sajalah
tulang dan dagingmu
doaku bukanlah apa
hanya kasih sayang sebelum masa itu
December 17, 2010
ELISA III
hening...
sunyi...
tak tahu kami ini apa
seonggokan batu
atau apa
kami mati dari semua
fana tak bertepi
kami berjejal ke dunia mimpi
satu lagi pelukan erat
tamparan bagi kami
satu lagi ciuman di pipi dan di dahi
kami pulas
terendam dalam kenyataan
pahit...
Tuhan ampuni kami
December 11, 2010
tuhan
Damsik Miharja: Tuhan itu hantu , tapi allah itu tetap allah ..
December 8, 2010
malam-lama
gerah...
bakar saja
kacau kicau
penat...
bungkam saja
malama
lamalam
malama
lamalam
sungkan dikata
pelik.
pelik..
pelik...
December 07, 2010
ELISA II
dibumi gerimis
merdu...
merdu...
merdu...
nyayian romantisme remaja
lagi kau pukau
aku...
mereka...
hidupmu cahaya
tak padam
kujaga...
kujaga...
selalu...
nyayian surga
dalam koor
oktaf terendah
Kau kupuja
Tuhan...
Tuhan...
Tuhan...
mana lagi duka
aku punya
Kau beri...
untuk gadisku
kau yang kuharap
hidup...
hidup...
selalu...
duka
Bukan...
Bukan kematian yang kutakutkan
Kerelaan tuk hadapinya
Tuhan maha bertahta
Kupunya duka
Dalam doa...
Dalamnya lagi kutitipkannya lagi
Harapan...
Harapan tuk bernafas juga
Bukan benar kematian itu
Bukan...
Keputus asaan dalam cahaya-Mulah
December 2, 2010
hidup
lembutnya menerpa pasir-pasir di muka
bersihkan diri dari gumulan dosa
pasir menghijau dilapisi lumut
melicinkan akal bulus yang selalu tertahan
beri celah untuk dosa beri jalan pula
aku bisa bernapas tetapi belum bisa berhenti
takdirku masih panjang ke depan
siksa diri dengan lamunan
buang waktu bermalas-malasan
beri setan punya peluang
beri Tuhan kita punya lalai
dalam renungan bisa tertawa
bisa sedih
bisa gila sendiri
tapi kita dapat ilham
beri hidup kita petunjuk
terlepas dari sesat ataupun tidak
kita renungi lalu jalan
jangan cuma melamun saja
menunggu cinta
menunggu kecupan
lalu mati ditiban buih
kadang bosan kadang malas
tapi hidup harus tetap ada
meski napas tiada lagi lancarnya
ayo bung kita hidup
meski bukan untuk diri kita sendiri
18-01-09
ELISA
untuk dia yang kucinta
kulukis semua dalam benak
kuikat semua dengan erat
putih cahayamu
hitam bayangmu
aku mengaggumi
semoga nanti kau seberuntung ibuku
untuk dia,,,
aku tak bisa berjanji
di surga
seduhkan kopi!
segera!
surga! kami punya tuak disini
surga! jangan kau kaburkan asap kami
di surga
yang kata yahudi
islam tidak ada
di surga
yang kata islam
yahudi tidak ada
berbini-bini cantik
Jumat, 29 Oktober 2010
Frame
Champagne...
Musik pesta...
Jas hitam...
Champagne...
Musik pesta...
Jas hitam...
Champagne...
Musik pesta...
rambut rapih terjambak...
sesal...
kesal...
anak tangga putih...
Cheers!
Musik!
Hingar-bingar!
galau
suara hening gelak tawa dalam labirin
hutan dan drama berpacu
semua genting tersisa keringat dan kecemasan
Api memerah di bukit
datang si kancil
aduh! tersungkur
teriakku memecah, Tuhan! Aku ingin menyepi tak perduli meski Kau mati;
jalan berkelok-kelok tambah batu
tambah segenang sungai ada kabut.
mungkin kau masih bisa bersembunyi disana: tapi tidak!!!
hahahaha
tapi sebelumnya kita bersenang
hidup bebas meski dibilang pecundang
ayo kita berlari
berlari
ayo kita bebas
terjang semua
hadang semua
kita hunus semua belati
jangan takut mati
kita hidup sekali
lalu sekali lagi
ayo kita terbang
yang di bawah?
jangan dihirau
ayo kita melayang
berpesta-pora
karena kita adalah binatang
lalu mereka bilang kita sinting;
acuhkan saja kawan!
sekali lagi berlari kawan
mari kita berlari
berputar-putar lalu menari
setelah itu?
mari kita mati
bunuh diri
atau biarkan sesak sendiri
titah raja beranak tiga
bakar hutan atas bukit hingga pelupuk
laju hijau jadi merah menyala
dimana tuan kuasa segala sukma
atas bukit terpa angin
datang kakek beruban putih tanpa suara
bawa titah raja
lalu bakar semua
tuan datang belati menghunus
bela negeri atas bukit
tentang titah raja beranak tiga
satu mati tiga anak raja ilang sukma
lari maju
lari jauh
datang angin dingin berkabut cahaya
datang api utara
api selatan
atas bukit hilang sunyi
api lalap sana
hangus
musim dingin datang titah raja beranak tiga
lalu hijau jadi merah menyala
Ibu
dan lagi kubuatkan nisan sederhana untuknya
hidup mungkin dulunya adalah pilihan untuknya
tetapi kini pergi adalah harga mati untuknya
tetap hidup
atau mati
dalam pelukannya kita belajar
arti satu dua pengorbanan
yang nantinya tak berjumlah
hidupku pun sempat punah
dalam ombang-ambing binasa
jadi binal tanpa kekang
tapi arti hadir memorinya melumat semua
dan tangis kini tiada arti
kehilanganmu
yasudahlah
hanya doa
hanya doa
sepertinya hanya itu yang kutahu
"ibu kau campur adukkan kami
dalam problematika
kami terlahir
dan akan selalu kami syukuri itu
ibu! aku ingin bertaubat
lalu segera...
sesegera mungkin menyusulmu
ibu! kali ini kami menangis
hanya kau dan Gusti Pangeranlah yang tahu
ini tangis buaya atau bukan
ibu! kami tidak mengerti arti bunuh diri
yang kami tahu ingin segera ada disisimu"
ini puisi dari aku, satu dari empat anakmu, pendesain kuburanmu..
atheist
dalam kehausan akal
dimaki-maki kata "atheis"
menghujam lagi rasa-rasa
dimana kami terasa hampa
dalam gelap...
dalam sunyi...
dalam tertawaan sinis pemuja setan
kami muak yang seperti ini
pindah frase?
mungkin lebih bak...
sepertinya jingkrak-jingkrakan dimalam hari lebih menyenangkan, ya kan?
kami beriman rasa atheis
bogor-sukabumi-pelabuhan ratu *javatrip
penuh aroma ketika bersesakan
dan akhirnya kita pun bebas berlari
sebelumnya matahari pun tak bisa mengekang
jadi pengecut dibalik awan
yang tampak hanya bolatan putih kecil
yang manis dan kemayu
dingin?
jangan tanya
ini hanya debat-debat kecil
masalah analisis yang bisa diabaikan
malah kita menang
hingga ke ujung pun kita sampai
batas horison di pelabuhan ratu
hijau...
semua hijau berkelebat
berselimut kabut tanpa malu
apalagi tersipu
semuanya kosong
yang tersisa?
dingin
dimalam kami berpesta
bergumul ditengah pentas kehidupan manusia
meski asing
kami ada
kembali lagi dikereta
turun di gambir
yang terasa?
aduhai panas nian
jawaban seorang yang berlari
hanya berdiam diri
mereka bilang sabar
padahal berusaha pun enggan
dan berkata "jalani saja semua ini apa adanya"
pikir mereka itu takdir
harus dihadapi dengan sabar
bergerak pun tidak
saya pikir
untuk apa berlama tenggelam dalam masalah
menetap di satu titik kejenuhan
karena
bumi ini luas
ayo kita bergerak
ilmu itu banyak
mari kita pecahkan semua kegaduhan ini
"saya tidak berlari dari takdir saya, tetapi saya berlari menuju takdir saya yang lain"
p.u.i.s.i
biaskan malam tanpa penghuni
bayanganku pun enggan
ini angin coba menemani
kutolak...
aku ingin
hanya dirimu...
kehadiranmu meski maya
aku punya daya
bahkan lebih dari seribu langkah
menuju tempatmu
mengunci dalam-dalam perasaan ini
dalam hatimu
kau pikir ini jauh?
aku bilang tidak
untuk kau
untuk semua layangan yang akan kuterbangkan
biar melintas sekonyong-konyong dalam benakmu
tanpa api
kita hidup
meski dingin
tapi yang kutahu
itu semua demi dirimu
kita akan ke laut
ke puncak
tapi apa arti?
jika tanpa hati
aku hanya ingin menyebutkan cinta
tanpa kata cinta
agar tiada luka
agar tiada duka
kelak...
rasa sayang
bukan hasrat
biar nanti kita bisa terbang
tanpa berlabuh
atau terjatuh
jika kau ingin kita jadi tabu
bungkam saja
aku mengerti
lalu kita jadi debu
kau masih dalam sinar matamu
jadi aku atau dirimu atau kita
yang akan beremayam
hanya kau tahu
dan aku tahu
dimalam ini
nanti, mungkin, kelak
mari kita ganti topik perbincangan
karena kusudah muak dengan percintaan
alamku masih biru terbanyur hujan semalam
yang tadinya kalian pikir gelap
hirau?
tak usahlah dihiraukan lagi
aku pergi
kalian pun pergi
dan kitapun seperti ilalang
impas?
mungkin tidak...
tapi kita sudah tidak punya waktu
untuk membalas dendam
bara... bara... bara...
dan...
buang saja sloganmu
karena dulunya aku seorang penjilat
yang kau benci
yang kau cinta
kepada wanita-wanitaku
disini inginku
disini jalanku
aku mau hidup
mungkin tak seperti chairil
ingin seribu tahun
jangan kau cerita aku punya ego
karena aku masih ingin yang lain
nanti...
mungkin...
kelak...
senja ini
sengaja kusisakan untuk menghela
apa yang selama ini kita irikan
aku masih dengki?
ya!
nafas ini masih basah
antara uap dan asap
apa-apa yang selama ini kita hisap
badan belum penuh dengan peluh
kita sudah mengeluh
karena dengki hanya bisa bersarang
dan terus membara
seribu duka untuk palestina
dari darah yang memijar
dari desingan peluru tanpa sesal
seribu tawa anak memudar
kasih ibu jadi tak wajar
melihat suaminya dihajar
oleh...
seribu mortir tanpa gusar
lirik mungkin cuma sampah
tak seperti teriakan bung tomo
yang katanya membakar
semoga dengan ini kita sadar
kita kaya
tuhan beri apa yang kita minta
kita cerdas
tetapi dibodohi dari dasar
kita kuat
tetapi pemimpin kita lemah
untuk lebih dari sekedar berujar
kita iba
tapi ditutupi kemunafikan
seribu duka untuk palestna
seribu tanda tanya untuk yang kini kita lakukan
this aint real, is it?
if properly realized, was packed with weeping ear
Our kids are not hungry in the deletion of this night
Our city was quiet, quiet as revolution of our leaders
Puisi Siang-malam
Malam juga masih mencari
Siang malam terus berganti
Tak tahukah tangan-kaki kami melepuh kapalan
Hari berganti
Hidupku tetap begini
Tak berubah
Tak Berarti
Sedang anak-beranak bernyanyi
Bukan minta dihargai
Tapi tuk sekedar dikasihani
Untuk diibai
Terus bernyanyi
Walau apa kata hati kami
Terus bernyanyi
Kami masih hidup
Dan masih mencari penghidupan
Untuk esok beri tawa pada anak kami
Siang kami hidup berkeringat
Malam Kami hidup menggigil
Siang-malam masih terus berlalu
Lewatkan ingatan begitu saja
Lalu berhenti sejenak di persimpangan
Bersama anak-beranak yang bernyanyi
Untuk sekedar mengisi hidup
Bukan untuk dihargai tapi untuk dikasihani
masih adakah tempat untuk buku
terbatas bingkai kayu
usang...
tergeletak tanpa ragu
buku itu hidup
seperti kayu
hidup menghidupi
seperti tiap keringat
para penulis
dalam kening lapar anak bininya
seperti darah
dalam anak bininya
yang dimakan pagi dan petang
buku adalah jendela dunia
yang ditutup oleh
sampul harga termahal
bagi si miskin
bukuku
bukumu
tergeletak layu
bukuku
bukumu
dimadu oleh waktu
perang vietnam
anakku cacat
darah yang kau tumpahkan
menjijikan
kau jilati harta kami
sebelum kau rampas
kau berdamai
sebelum tusuk kami
lalu racuni kami
kalian gila dengan semua persepsi yang ada
takut?
kalian takut
kalian gila
kalian cemas
karena kami ada di depan
dilubang sempit
tak bercelah untuk kalian
kami selalu melawan
dan akan selalu
kalian hancurkan negeri kami
hanya karena takut
kalian racuni kami
takut pada penerus kami
kalian pikir berkuasa?
berpesta lalu nikmati?
jangan tidur sebelum kami mati
untuk rakyat vietnam yang diracun senjata kimia
untuk irak yang diporak-porandakan
untuk palestine yang masih terjajah
untuk afghanistan yang dikambinghitamkan
untuk dunia yang cinta damai
kabar duka
meski terlewat...
untuk kawanku yang berduka
untuk dia yang berduka
ingin kubertanya kepada Tuhan
bukan menghujat...
tentang hidup
tentang mati
mana yang lebih penting
ini nyata
ketika dia hanya bisa menangis
dan tak ada alasan untuk berhenti
ini nyata
ketika dia bingung
kepada siapa dia kan bersandar
ini kematian...
ini duka...
tak bisakah kita mengira?
dan tenggelam dalam lukanya
untuk dia yang berduka
ditinggal pergi bundanya
"vidi aprilia"
sebelum gugur
yang lagi-lagi kau beritakan
dan duka yang berserak
mengerak
karena kita bodoh lalu jadi bangkai
terhalang asap-asap kabut menutupi lalu jadi bangkai lagi
berteriak tentang mawas
menari-nari
dan hidup bersama pelipur
harap sebelumnya gugur
jadikan kami obor
biar bakar semua kelakar
jadikan kami cahaya
biar obrak-abrik gelap sekalian
sebelum gugur
sebelum abu dari bara
perenungan tahun...................
adalah kebodohan yang terpendam
mengental lalu memuncak
melangkahi batas
dari ambang dan lebih lagi
alur belakangan ini
mengabur
menjadi blur
tak tergambar
perenungan cuma jadi omong kosong
bohong...
dan kebohongan ingin membela
menutupi sisi
membuka sisi lainnya
tahun-tahun hanya berganti
dari satu ke depan yang lebih genap
ke ganjil lagi
cuma tawa tanpa bahagia
cuma tangisan tanpa makna
kesadaran hanyalah satu cara
mengangkat yang akan selalu terjatuh
terjatuh...
tak bangkit takut ketinggian
aku ingin buta
biar bersyukur
rasa apa yang mereka rasa
ingin apa yang mereka ingin
mungkin terlalu lama tenggelam
tanpa kesigapan
tanpa kesiapan
kita lengah
terlena
kita lemah
lalu punah
ode pemuda hari ini
lekas bangun, bung!
meski kau bukan pahlawan
ada tertawaan
jangan sindir, bung!
hargai sedikit itu cukup
udara dan eidellweiss bercampur
hujan dan embun hilang
bersama pelangi dan laskarnya
coba nikmati, bung!
bung! ayo bung!
satu langkah
kita halau semua
kita tindas penindas
bung! ayo bung!
dendam nyatanya tidak untuk dibalas
cukup kita rampas yang terampas
meskiku terhempas
meskikau terhempas
kita berakar menjalar
tanpa sulut pun kita bakar
bung! ayo bung!
bebaskan kekang
ayo lari kencang
deru sarkasme seorang liberalis
liar...
dipenuhi kenikmatan...
bebas...
tak mengerti arti kerja keras
tak dan sedikitpun tidak...
belenggu Tuhan akan iman
belenggu umat
dalam setiap tarikan dan hembusan
tak juga kami rasakan
kertas kosong...
gelas kosong...
mau kami umpamakan apa lagi?
untuk kesucian kami...
dibelakang kami dusta mendustai
khianat...
bangsat!
dibelakang kami juga vokal
jatuh menjatuhkan kau yang kami banggakan
dibelakang pula...
semua terjadi...
nista bergulir...
Sabtu, 06 Maret 2010
deru malam ini
biar ku pijak lagi
beri satu tanda lalu kupergi
jauh...
api menjilatku tiada henti
menandukiku seolah akan mati
untuk yang berbahagia di februari ini
semua ini belum berakhir...
karena detak ini masih ada
kau berlari...
kau berlari...
kau berlari...
dalam gelap
kutersungkur
dalamnya lagi kumenampar
memar...
ahh biasa...
biar luka ini tetap menganga
asal keangkuhanmu...
punah
untuk Gia binti Bachtiar
aduh...
ngilu...
kau muda
terlalu muda
untuk tergilas
nafas dan roda kehidupan
tahu?
ayahmu bergumam...
malang anakku
malang cintaku
tahu?
ayahmu dihempas debu
bernyanyi seribu lagu
tetapi tersumpal rindu
padamu...
muda...
kau terlalu muda
untuk mengerti
peluh ayahmu
tetapi kau tahu
dan pasti tahu
kelak...
ibukota menyiksamu
di sana kau hidup bebas dalam belukar
tetapi belum...
karena kau masih terpasung
semoga
kelak pun kau berkata
"terima kasih ayah"
bencana alam
dan menghilang dalam sepi
kau adalah bencana
dan kau tidak peduli
mendengar pun tidak
berhenti...
jangan kau bernafas
tak perlu kau seka airmu
kau adalah bencana
sadarkan kami...
sadarpun kau tidak peduli
berhenti pun tidak
sampai semua selesai
punah kami tujuh turunan
karena kau adalah bencana
bencana alam...
kau adalah air menggenang
kau adalah gempa mengguncang
kau adalah api yang menjilat
kinipun kau tidak peduli
mendengarpun tidak
lakon kehidupan
persemaian jati diri
dari satu jadi seribu
wajah duka
wajah luka
menganga beraroma
busuk nanah dalam hati...
tanpa tawa yang kau buka
kehangatan dalam senyum
tak lagi kita percaya
kesadaran...
kepunahan hasrat toleran
kita hidup bukan lagi di rimbun
ketika terdesak
minta peri dan keajaibannya
tetapi kita adalah pencipta
keajaiban dalam lakon kehidupan
dan itu sudah cukup
lebih dari sekedar kepakan
ketenangan
yang kudamba
hanya ketika terpejam
ketenangan...
karena kubenci lara
sebelum terseret temaram
kupikir tak akan seorang pun
aku, kamu, atau mereka?
tak akan dapat kecuali sesaat
pelarian kepada whiskey tak terasa
gele...
sesaat untuk binasa
saat terpaku
oleh takdir...
terpasung...
sungguh mengekang
ketenangan...
adakah nanti?
atau esok?
hingga senja datang...
nanti mudaku kuhabiskan dilaut
menjajal alam
atau merimbun bersajak
adakah rusukku yang bawa
atau pada lahadku
akan kutunggu
elegi
kau lebih-lebih...
air mata kita palsu...
tapi sayang kutak punya
haha
doa kita sama
"kuharap kau menjauh"
ini rasa jadi luka
dan kau yang punya perkara
tak satu yang kusesali
kecuali masa lalu
lalu... dan berlalu...
sekali lagi ini duka punya siapa?
kita diam...
dan itu juga palsu...
tetapi semua hanya masa lalu
nafas pendek
tersisa untuk kata-kata
lantang?
sekiranya tidak...
teduh
tak terik cahaya ini
suram?
mungkin tidak...
rasa ini tidak ada
karena dia...
iyakah?
kurasa tidak...
sampai jumpa
jiwa besar berpisah
jiwa kalah menengadah
deru angin
dan asap tinggal penghabisan...
ALZHEIMER
beserta taburannya
murnikanku dalam keharuan
dekatkanku dan lebih dengan Sang Pemberi nafas
sinapsis-sinapsis terputus dalam genggaman-Nya
lajuku berhenti lajumu juga
ingatkah dan masih akankah
Allah.....
yang selamanya kita sembah
dan untuk-Nya seluruh hidup kita dipersembahkan
sekarang atau lebih
kita harus pergi
karena tubuh ini panas dan semakin
bagai bara atau lebih
untuk itu mari angkat gelas
dan nikmati lagi
satu kecupan dari glukosa
masih dahulu
masih batu....
masih lumpur...
dan hampa yang terkoyak-koyak...
masih kamu...
masih juga jiwaku...
disini...
dipelataran rumah dan rasi biduk orion...
seperti dulu
aku ingin liar
seperti dulu
kau ingin disayang
saat nafas kita sama
bau kejujuran
saat tubuh kita sama
untuk menolak genggaman ini
aku rindu kau yang kurindukan
apa adanya
seperti dahulu...
pulang
disini...
didepan air mata para oportunis
kuingin pulang
kuhanya ingin pulang...
menghantarkan nyawa kepada Yang Kuasa
bersembunyi dibalik tabirNya
kuingin pulang...
tanpa lagu tentang duka
tanpa derita yang kau dendangkan
tanpa birama 1/2 ketukan
kuingin pulang
kuhanya ingin pulang...
menyusul ibuku yang tersayang
yang malangnya sudah diterjang
ibu...
aku pulang...
bila kugila
bila kumenggila
jangan dibelenggu
biarkan liar
buang ke hutan
mungkin hidup lekas dimulai
bila kujadi gila
hilang semua
lenyap dimakan bara
yang dulunya berapi-api
tiada ego
dinding bersembunyi
malupun sirna
lenyap semua tanggung jawab
romansa
tergambar dalam susana
legam tanpa jejak
lalu berlari sana-sini
menampar kanan-kiri
lihat...
jilat api
bakar nista dalam dada
kau semburkan lagi
dan lagi...
kekesalanmu pada putihnya tembok
kau hujamkan lagi
dan lagi...
pena dalam ilusi
romansa penuh luka
dengar...
gemertak beling
pecahan botol
binasa tersisa tanpa kata
Minggu, 17 Januari 2010
sepenggalan hari yang lalu
ada kisah terhapus
seperti jejak di pasir
ada luka terobati
ada sendu yang terlupakan
seperti daun yang begitu saja terjatuh
seperti kisah romeo
tetapi berlalu begitu saja...
terlalu rapuh
aku di matamu
hanya kumpulan sajak berjalan
tiada harga tanpa tinta
ada suka yang kita lupakan
dengan jenuh yang kita jejalkan
tanpa sisa...
Cerberus
dengan tiga mulutnya
yang ingin kumaki biar diam
dan ingin kutikam
agar tidak ada nafas yang jadi dendam
aku hidup dengan cerberus
penjaga dan teman di neraka
datang menjemput...
untuk siapa?
hitam legam dan liur yang menyeruak
matanya...
matanya bagai api menyala di jantung para pezina
sepanas nafas pemabuk di jalanan
segelap aku...
aku berkawan dengan cerberus
dalam kelam
yang menarikku di nadi
memutuskan aorta aliri otak
ambisi
hingga es di daerah nordik
ada zamrud dalam belantara
beserta palung yang lebih dalam
ada darah yang mesti ditumpahkan
ada nyawa yang harus dikorbankan
ada wanita yang harus ditinggalkan
dan ada kegelapan yang harus dilenyapkan
liar...
kau hinggapi
mencumbu hingga binal otak kami
ada tombak yang mesti dilempar
ada pedang yang perlu dikibaskan
eurasia hingga oceania
dari tundra sampai hutan tropis...
dan masih menunggu raja
untuk kejayaan yang dipersembahkan
Pantai Kuta
kegembiraan...
diatara petikan dawai dan alunan harmonika
di pantai dalam realita setengah imajinasi
tercakar pasir-pasir
dimaki-maki gelombang
untuk berhenti
lunglai tubuh dengan topi miring
berjalan susuri garis-garis pantai
terucap komat-kamit dalam mulut penuh alkohol
dimana kita tanpa akal?
hanyutkah?
berlarut-larut dalam kekecewaan
surga di kakipun tak terasa
lalu angin datang menampar untuk sadar..
Mari kita dengarkan angin
Angin itu berbisik
Bukan mendengkur
Ataukah kita mulai tuli
Tak lagi bisa merasa
Kau tahu?
Ini bukan saatnya bercumbu...
Kintamani-Denpasar
yang tersisa basah dan menggigil
kau bilang air
aku bilang batu
menghunus nadi...
jalan masih panjang
tetapi keluhku sudah lebih
takut mati?
tidak...
aku lebih baik disini...
bukan sepertimu
di atas ranjang...
kau tahu?
air dan angin jadi musuhku
yang ceria karena kawanku jadi berkubang
haha...
seperti babi gemuk
seperti anjing-anjing yang kau rawat...
muntahkan saja kalau berani
kintamani...
tinggi menjulang dicampur debu dicampur kabut
denpasar...
kami rindu laut
anggap saja ini makian
terakhir di tahun ini...
Penari-penari tuli di Bali
Terjauh dari arogansi
Bebas terjatuh
Lalu melompat bila kumau
Layaknya lenggak-lenggok penari
Yang meski kalian maki
Tiada rasa perduli
Mungkin tuli...
Sekali saja aku bisa hirup aroma ini
Aroma candu budaya bumi pertiwi
Dalam alunan musik sederhana
Di atas surga pentas dunia
Berpanggungkan batu
Sekali lagi aku ingin hidup
Dalam kemusykilan
Bukan terpenjara...
Dibodohi adat turun temurun
Sore-sore
Menampar untuk sadar...
Sementara yang kanan menulis
Karangan untuk para iblis
Yang tersisa asap-asap menggelepar
Puntung-puntung terkapar
Bersama-sama impian yang tak lagi tergambar
Sore ini tidak lagi arogan...
Seperti biasanya
Yang ada hanya kelembutan sinar terpancar
Ajak aku untuk menohok...
Teriakku! "dunia ini terlalu luas, bung! Sayang kalau kau mati disini!"
Masih ada yang lebih sempit dari pikiranmu
Jauh lebih luas dari dadamu
Lebih hijau dari daun dan matamu
Lebih gelap dari hati
Milik kita...
"hahh! Hati milik kalian???" tanya dinding yang ragu
Tambah saja bergetar...
Tangan ini...
Yang kita punya tapi terpasung
korelasi dari kemarin hingga pagi ini yang menguning
air kini yang mulai mengental
kotor...
kau angkatku dalam penatku
bersih...
suci...
kau kembalikan jiwaku
seperti kau hidupkan kembali organ-organmu
dalam tarikan nafasmu...
kini lagi kutenggelam
dalam ke-bohemian-anku
berlarut-larut...
tak terhenti...
menjamah ke-introvert-an
di sore buta lagi kudatang
tanpa bunga mawar...
tanpa apa yang kau damba...
sederhana saja kudatang...
dan kita pun duduk bersahaja
berteduh pada Syzygium samarangense depan rumahmu
dan teori-teori para spekulan pun terjatuh
runtuh...
buyar...
punah...
yang tersisa...
ku terbangun di pagi yang kuning
dan ku sadar...
kusudah kembali dalam kubanganku
jadi binal...
ya!
bertambah binal...
Inciendie!!! brasier!
semua hangus sisa arang
rumahku jadi merah
sama atau lebih dari darah
"untuk siapa?"
kau datang...
sisakan sejuta aroma kebusukan
bawa kami titik terang
untuk memberontak
exodus...
mungkin itu tujuan
atau cuma pengalihan
Kejujuran dalam alunan sebotol vodka
Dalam sedih kumengadu
Dalam sendu kumenggerutu
Tiada sabar...
Tuhan...
Dengarkan aku yang berujar
Maafkan aku yang kurang ajar
Dalam rindu kumenyembahmu
Dalam khilaf kumelupakanmu
Kadang dipelupukmu kumenghinamu
Dalam jubah congkakku
Kuberujar...
"amboi! Andai badan ini mati saja"
Tuhan...
Tiada khusyuk kusembah dirimu
Kubersemangat menghujatmu
Tiada daya... Aku lemah...
Badanku...
Jiwaku...
Akalku..
Dalam pelukmu kukembali mengadu
Aku hina...
Binal...
Jalang...
Mungkin aku binatang
Tuhan...
Dalam alunan sebotol vodka
Kumalu... Aku masih hambamu
Mon Histoire Invraisemblable
Kami bukan manusia dikagumi
Atau terlalu disayang
Lunglai kami berjalan
Tergantung jas berbau wine
Di lorong sepi
Tempat nafsu binal memuncak
Lalu kami nyanyikan lagu derita
Hingga terlelap dimakan lelah
Malam ini kian sepi
Hanya ada duri
Hanya ada tawa bidadari
Dan kumpulan mimpi manusia gila
Selebihnya? Binal!!!
Kami bukan manusia yang gemar
Dengan segala rutinitas
Seperti ayah berangkat shubuh
Pulang malam...
Pentingkah???
Hahahaha...
Tawa bidadari disusul kepak sayapnya
Yang bosan...
Adakah arti manusia bagi kami???
Atau kehidupan???
Dasar...
Bocah kemarin sore...
Dengan pemikiran lepasnya
Malam ini kami kian gila
Terlepas dari kesal
Terlepas dari sesal
Entah esok masih ada...
arti pemuda di kerumunan
Mungkin memilih mati muda
Enggan dimanja
Dilayani layaknya raja
Kami mungkin mati belia
Dengan semangat baja
Jangan kau tanya kenapa?
Ditangisi tanpa air mata
Dari satu titik di secarik kertas
Kami tinggikan layaknya bintang
Ialah penentu nasib perut kami
Besok? Lusa? Mungkin menahun...
Apalah artinya peluh ayah kami
Apalah artinya serak ibu kami
Bagi kami rasa iba
Menuntut kami ke jalan
Menuntut kami beriak
Kami tak takut lagi mati
Satu-dua nyawa itu biasa di lapangan
Jangan salahkan kami berlaku liar
Jika melihat perilaku mereka binal
Di balik layar...
Di balik layar...
Ya! Meski dibalik layar...
Karena kami bukan anak raja
untuk siapa decak kagum
Yang selepas shubuh ditariknya
Untuk kesenangan? Kau gila!
Jangan tanya macam-macam
Hari ini ia lelah
Hari ini telah cukup
Tak percaya? Lihat isi keretanya!
Tak perduli kau siapa
Jangan pandang rendah ia
Seorang lelaki tua
Dengan langkah yang masih berlanjut
Dan nafas yang penuhi dadanya
Hingga bayangannya memanjang
Karena kita tidak tahu selepas itu hitam menghilang
celaka
Bara tak mau padam
Seperti kapal enggan karam
Kau tahu aku diam
Dibuat kau mati berbusa
Kau sadar aku beku
Leleh saja oleh tatapmu
makan uang rakyat = makan sampah
Tak percaya?
Deru dan pasir saksinya
Kalian makan sampah
Ada darah...
Mencoba mengalir
Tak tentu arahnya
Kadang lewat jantung
Kadang terhenti
Tercekik kalian
Kalian yang makan sampah
Bukan kami tak berdosa
atau bersembunyi dibalik metafora
Tapi kami tidak makan sampah
Kelu lidah menyimak di jalan
Menelan ludah...
Iba...
Karena kalian
Mereka makan sampah
Atau dari sampah
Entah kapan akan terhenti
Laknat kami
Teriakan kami
Untuk kalian
Kalian yang makan sampah
Mencoba berlindung
Berkubang di timbunan uang
Mencoba bertahan
Dengan tameng kiasan
reponse
Yang kubilang hangat...
Yang kau bilang haram...
Pernah kau meresap derita?
Bukan sekonyong-konyong membanci-banci kau berpuisi
Mungkin kumaklumi ingin puaskan hati
Dan detak jam seolah bertanya padaku
"Masih berharap kau dengan keapatisanmu?"
Ditutup sangkalanku
"aku hanya ingin jadi egois"
lelah
Tak terang apa maksudnya
Duri kian memberi
Satu hati rasa perih
Tampung semua tak terkecuali
Di sini yang ada gelap
Dan bias lilin yang meredup
Satu lagi...
Bayangan wajahmu
Kenapa?
Kenapa saya sendiri
Yang harus menyesali
Tegar saja.....
Dan pastikan esok semua berakhir
Karena di sini yang tersisa hanya gelap...
Untold...
There's no matter
When i die...
When i fall on this dark shadow
The moonlight that've been seen
Give me one last breath...
And the last view in my mind
Is you...
Just you... And our memories
Trying to keep this situation
At last...
I'm still alone to fill my life
Without story anymore
Without some guilty words
Twilight tries not to hold me
Lets me in the dark of night
There's nothing left
Only me and my shadow...
How could it be to me...
I'll always fall
Never arise even just to kiss you
harapan dan doa
Tentang harapan
Yang masih ku pertanyakan
Kepada Tuhan...
Dan doa.....
Yang kami haturkan
Dengan iringan sembah kami
Kami saling kutuk-mengutuki
Lalu bara jadi api
atlantis
Jauh-menjauhi...
Bumbung lampaui semua
Di atlantis...
Langit masih biru
Dan darah masih merah
Bersimbah...
Tak peduli milikku... Milikmu
Gaia mulai menangis
Deru nafas kronos
Kita berperang...
Kita berperang untuk apa
Di atlantis
Tubuh ini liar
Akal juga
Hingga tamak terlarut
Dengki juga
Ini tanah siapa
Bagai firdaus di bumi
Zamrud di mahkota
Atlantis... Oh... Atlantis
Yang tenggelam dalam serakah
Kamis, 19 November 2009
Kita, lemuria, atlantis, dan sisi gelap bulan
Enyah saja...
Sisakan sepi untukku
Tak peduli kau siapa...
Kita takjub pada dunia
Sembah-menyembah
Pikir aku salah
Atlantiskah? Lemuriakah?
Peduli saja kau padaku
Biar kata-kata ini berlari binalnya
Biar aku dipukuli sekalian
Gantian...
Kalian pikir aku salah
Beradabkah? Berilmukah?
Aku bilang sky passage
Kalian bilang aku gila
Tanya aku malu
Jadi sembunyi di balik layar
Jadi mengendap di sisi gelapnya bulan
Kalian pikir aku pecundang
Ketololan kita berasumsi
Buat ricuh
Buat rancu
Tanya kalian salah
Sudah lama kita hidup
Tak bisa ingat arti-arti
Rindu kami
Kami yang sudah belangsak ini
Punya rasa yang sama
Kerinduan...
Tiada jauh berbeda
Antara pergi jauh
Dan ajal
Beriringan laknat Tuhan yang kami berikan
Tiada doa mungkin suram kuburmu
Kami berlupa disini
Bermain gila dengan dunia
Tenggelam dalam putaran detik
Tiada kami kenang
Kecuali ketika air mata
Melepaskan semua keluhnya
Lalu kami berlupa
Maafkan aku ibu...
Satu dari 4 anakmu
Di masjid
Yang kalian buat
Kacau disini
Dan yang jelas tersisa ria
Omong kosong apa lagi
Yang kalian muntahkan
Lesu berkedok...
Kalian nina-bobokan umat
Ini bangunan bagai tak berpagar
Tak berpondasi
Ada...
Tapi rubuh
Riuh decak-decak
Tepuk-tepuk bersorai
Kalian dustai Tuhan disini
Dan ajak kami juga
Kalian percaya tapi bagai atheis
(satu menista
yang lain gila... [red. chairil anwar])
(maybe it'll be) the last surprise
Memandang langit hampa
Bersama seberkas cahaya
Angin menerpa lembut hitamnya rambutmu
Bulan saja malu-malu tersipu
Tutupi wajahnya dengan kelabu
Deru jadi bising
Samarkan suara kecilmu
Dan kita masih duduk berdua
Disini...
Sepenggal kisah yang kau beritakan
Lebih jauh dari derita yang ku rasa
Ku coba hibur kau
Peluk cahaya bersama tawa
Berlari-lari sendiri
Hidupkan dirimu seperti putri
Lalu kutinggikan lagi layaknya bidadari
Kali ini kita sendiri-sendiri
Aku pergi menyambut ajal
Aku pergi menjemput takdir
Akhirnya tak berdua lagi kita menyepi
Karena aku lebih ingin diselimuti sepi
Satu pagi aku datang
Bawa oleh-oleh dan bawa mawar
Kau terlelap aku mengetuk malu-malu
Tepatnya mawar putih lalu aku beri
Berpamit lalu pergi
baghdad kini dulu
tercabik-cabik...
bau gosong
apa ini...
pasukan mongol?
darah membanjiri
merah disini
apakah kita realita?
tanya bocah
berleher legam
tinta...
menghitam lautan di senja
ilmuku ilmuku
habis...
satu habis...
semua punah...
Aku dan Kau
bukan satu atau dua hari
kita bertemu...
bukan di satu titik...
meski batasan kita terlalu jauh
pelbagai aroma yang diarungi
nafas-nafas alam yang masih ada
kau hempas lagi satu-dua ribu kehidupan
noktah-noktah masih ada...
bertebaran dipersimpangan
dan lagi-lagi hanyutkan sisa-sisa tenaga
kau bukan Tuhan
jangan mengaku
Korelasi waktu
Berdetak...
Dengan konstanta ia lalui kenangannya
Dan dunia ini...
Masih terlalu sempit
Untuk melupakan segala
Menutupi semua kegilaan
Karena cinta...
Tidak dibenih dengan apa
Jadi tak ada tang tersisa
Tinggalah kita...
Yang dihinggapi cemas
Terhempas sia-sia
Selasa, 06 Oktober 2009
A Greed Boy
Dan aku pun seperti itu
Ingin pandai seperti Idris
Lalu dikawani Izrail
Abadi di tempat yang dibilang nirwana
Kami adalah kesegaran
Yang tak bisa kau padamkan itu
Seperti Isa yang selalu muda
Seperti Yusuf yang selalu tampan
Seperti Ibrahim yang selalu lantang
Kamis, 10 September 2009
About You and Butterflies
diterpa hujan naungan sedihmu...
hidupmu berkaca-kaca...
sekali lagi kau getarkan jiwa ini...
padahal ini hari kupu-kupu itu berajal...
hanya sehari sayang... tiada yang abadi...
adalah kau yang terbangkan aku tanpa sayap...
hanya dirimu...
merayu kalbuku sekali lagi...
dara... kemana kau pergi...
i'm so losing
i was afraid so
dara...
dara...
kemana kau pergi...
dara...
kemana kau bawa aku pergi...
sayapku terlanjur patah
mataku mengucur darah
dara...
aku masih bisa berlari
dan tak akan terhenti
dara...
aku ingin pergi
biar kau terbang sendiri
percuma kau merayu lagi
it's over
Rabu, 24 Juni 2009
Jika Kau Malam
Jadilah aku sepi yang akan temani
Senjamu adalah ketika kau datang dan aku sambut
Dan shubuhmu hanya aku yang berundung sedih diantara tiang-tiang agama
Jika kau malam
Naungi aku
Gelapkan aku lalu samarkan
Yang tersisa bisik-bisik
Karena semua hening
Jika kau malam bawa aku dalam damai
Buat tubuhku lunglai
Hidupku penuh nilai
Jika kau malam
Jadilah kau peri
Temani aku sepanjang gelapmu
Jikalau pun kau bukan malam
Jadilah seperti yang kurindu
Cermin dan Dunianya yang Kelabu
Dan aku pun turut kelabu
Ku suka gelap dan kegelapan
Sepi dan kesepian
Sunyi dan kesunyian
Hanya bisa berduka saat ini
Tak bisa tertawa
Andai ku tak butuh teman
Andai ku bisa bahagia
Andai cerita-ceritaku bisa terlepas
Berlarian di hijaunya tirai surga
Menyelami di beningnya tiram laut
Menkafani jiwa ini
Derita duka biar ku bawa sendiri
Dan kau tak perlu tahu
Terlanjur malu
Terlanjur dipencundangi
Karena semua ini pilihan
Dan tidak untuk disesali
Mengapa laut masih saja biru
Mengapa duniaku jadi kelabu
Dan hidupku masih saja di dunia yang nisbi
Bujuk Aku Hidup Lama
Ayolah bujuk aku
Biar aku hidup lebih lama
Beri aku cicip rasa manismu
Mungkin akan mengejawantahkan kegusaran
Ayolah! Tuhan!
Dimana surgamu
Agar ku bisa makan
Dan minum dari sungai yang katanya mengalir dari sana
Akhir kan memang tak seharusnya indah
Dan andai ku tak harus mengawali semua ini
beri aku satu tegukkan karena aku sangat haus
Jumat, 12 Juni 2009
Masa Rindu
tersesat dan tak tahu akan kemana
hanya rindu dalam surga
rindu pada pelukan ibunya
semilir angin menggiurkan langkahnya
hanya hampa dibawa mondar-mandir
langkah nista ia jejaki
lalu terperosok
anak yang dimanjakan dunianya
anak yang termakan rayuan hatinya
dan nurani untuk apa ia ada
rindu kepada padi
disaat ia masih hijau
rindu pada angin
disaat ia menyapaku
rindu pada tenangnya rimba
saat mereka ku lintasi
yang tersisa hanya kenangan yang dirindukan
jejak kaki dan lumpur
Adalah Kami Pecundang
Ditombak gedung tinggi menjulang
Hutan kami tiada lagi
Tiada lagi untuk saat ini
Meski desir ombak tiada mau berhenti
Hijauku termakan merahmu
Kini yang tersisa hitam kita yang membumbung
Doa masih saja kamì lontarkan
Beserta air mata
Makan apa anak kami
Main apa cucu-cucu kami
Tuan kau gadaikan hutanku
Tuan kau buang semua hijauku
Kau rampas
Rimba kelana manakah kami berjuang
Dulu bambu runcing
Kini yang ada jadi tirai
Syukur-syukur untuk kami makan
Berani tuan tentang kami punya aturan
Kami bela tuan jika bela kami pula
Adakah kami punya wewenang
Sementara takdir saja hanya tunduk pada Tuhan tuan
Perubahan bekali kami kekuatan
Revolusi mana terakhir kami runtuhkan
Apakah manusia mulai menjadi pengecut
Untuk menghadapi kehidupan
Dan menelurkan generasi-generasi anak banci
Hanya semakin menghitamkan
Lalu menertawakan senja
Last Poem for Her
Sendiri dingin menyepi
Gelap... Hentikan tawamu
Aku geli mendengarkan
Pagi... Hapus sedihmu
Jangan buat ku terlelap disisimu
Hanya bisa menanti
Hanya bisa...
Doakan saja aku bisa
Kemarin bahagia itu indah
Sekarang ku pikir sia-sia
Haha... Dan besok mungkin aku gila
Coba dalami lagi seperti kata mereka
Apalagi kehendak Tuhan Maha Bertahta
Kita berseri tunggu esok hari
Meski yang ada cuma kata bunuh diri
Atau apatis pikiran kita
Belenggu masih di dada
Sadarlah di harapanmu itu kosong
Tak laik lagi kau ada
Enyah saja...
I'll cut my fates if only you ask me
Don't ever dream
Nor to expect...
Hell's waiting never runs out
Or paradise wants me out
Aku Tertinggal di Taman Surga
waktuku semakin gelap
bersemayam di temaramnya surga
aku tak tahu kemanaku dibawa
meski dahulu mukaku sempat bersinar
cahaya suci pancaran wudhu
kini semua sirna karena aku nista
karena dusta ada disana
waktu kini saat merimba
melupakan suram senja
berkelana...
ya... aku akan berkelana
hingga mereka sebut aku si jalang
si rupa tiada bernama
atau siapa entahlah
karena kau aku buta
ku sebut kau si duka
coba beritakan dirimu nanti
saat kau telah dewasa
biar tawamu makan sesak di dada
kini aku dimakan hampa
tiada tawa....
beri senyum malah terluka
ini-itu aku tiada peduli
yang ku inginkan engkau suatu saat nanti
saat ini baiknya kau pergi
karena kini ku kalah segalanya
tetapi urusan romansa
aku tidak sebodoh qabil
tidak akan pula senaas habil
Ku Berduka Tentang Lara
Sedang kau diam pun aku sakit
Jangan kau bertambah gila
Kau dan lara sudah cukup aku binasa
Jangan ditambah
Atau malah sebaiknya kau enyah saja
Duka bagaimanakah kau membantah
Jelas sekali kau bersalah
Dan sekarang aku lega
Duka dan kini ku bersenandung tentangmu
Senandung duka
Meski tiada pelipur lara
Itu
Bukankah diam itu emas??? Iya, kan?
Tetapi hatiku hidup berkelana
Apa Itu Demokrasi
sementara matahari saja belum sempat ke puncaknya
belum ada segelas keringat yang bercucuran
belum ada setetes darah pun untuk tujuannya
belum genap usiaku berkepala dua
ingin aku bicara tentang dunia
ingin aku bicara tentang cinta
yang nyatanya semua itu kosong
layak disebut sebagai si pemimpi
bolehkah aku bertanya
kenapa
bagaimana
bolehkah aku bergumam
hmmmmmm...
bukankah ini negeri bebas
yang populernya kalian bilang negara demokrasi
Selasa, 21 April 2009
jejak langkah
bawakan hati berlumur darah
tawamu ternyata masih menggema di lembah ini
sedihmu juga
terlahir berkembang selalu mendengarkan
mencoba untuk terdiam
melawan arus ternyata berat
atau aku hanyut
jejak kaki ini masih terlampau dalam
coba kutipiskan
matahari masih terlalu kejam
mari kita beristirahat
aku di sini menjangkau langit
aku di sini tenggelam
aku terkubur semakin dalam
Berhenti Berlabuh
pergi lekas berlayar beri hembusan
karena sudah tidak ada cinta di pulau ini
suram senja di sini
tiada lagi tangan melambai
seperti datang berbeda pergi
seakan tiada jumpa walau sekali
mari kita berlupa sekali lagi
layar sudah dikembangkan
laksana elang hendak terbang
terlihat gagah memang
tapi tiada pengharapan yang akan datang
ternyata salah ku kira semua itu
harapan....
meski lama kita berlabuh (kiranya 10 bulan yang lalu)
Ilusi dan Semua Berlalu
dingin tak ketinggalan menyeruak di hati
tubuh di atas pesakitan
beritahu derita duka
beritahu semuanya
lembab selimuti batin
buat resah buat gelisah
seakan semua melekat hari ini
cumbui nista coba beri kehebohan
bosan dengan kebohongan
tapi punahnya nurani terlupa
titip pesan dari dunia ilusi
titip hari ini dengan pasrah
titip esok dengan kebingungan
Sabtu, 28 Maret 2009
si pejalan kaki

Kehilangan...
Ketika nafas sebagian pergi
Dimangsa cahaya bulan dinginnya malam
Harapan tiada lagi
Asa duka masih tersisa
Bangkit bangun tertawa sepi
Jatuhkan butir-butir darah
Temaram lampu hiasi jalan
Pejalan kaki dengan segala keputus-asaannya
Sampai saat dunia bersinar membakar harapan
Tak pedulikan materi
Tak lagi
Tak akan pernah
Buasnya kegagalan menghantui jalan
biar kau hadir
cahaya coba tembus sisi gelapnya
terbangkan pesut-pesut ikuti nalurinya
ketika anak manusia tak percaya apa yang dirasanya
dan tak terasa ribuan kali buih ombak menggerus pantai
tarik kembali lalu dihempaskannya lagi
karang menumbuhi kehidupan
dunia makin tak jelas
kadang beri warna
kadang beri suram
tawa gelak yang nantinya tenggelamkan kita
kesedihan yang menanggalkan ego
lupa aku tak mau berlupa
ingin rasanya teringat diingat
dibuai terbangun
luluhkan setiap air mata
bidadari-bidadari dari surga
genggam jemariku
coba untuk sengatkan ribuan volt
seperi ubur-ubur
bunuh setiap mereka yang hadir dalam hidupku
sisakan dirimu
Yang Terlupa
tentang mereka yang telah pergi
yang tak kembali tertinggal masa
terkubur terpendam besama ingatanku
hadirkan mereka di taman surga
wewangian menyengat basahi kalbu
bayanganku ada tetapi pudar
pudar kelam seiring waktuku
janggutku pun tiada henti
berhitamkan pigmen gelap anak manusia
aku dewasa mereka pun terlupa
Indiference
ketika masa kecil berlalu
beranjak dewasa masih tersisa
dan membeku
berkerak di dasar hati
menutupi kebenaran
hingga aku tersesat
mendasari wajahmu yang kelabu
aku jauhi kian tampak
tetapi kini tersamar kembali
aku tak bisa kembali
berpasrahkan kepada takdir
dingin beranjak dewasa
mungkin ingin mati muda
Kamis, 26 Maret 2009
Palestina!! fight for The God
Dahaga terik kebebasan
Dimana dunia dimanakah surga
Duka luruhkan hati
Derap debu mengulur waktu
Doakan kami wahai rabbi
Pacuan kuda terdengar tiada lagi
Zaman kini kami lawan besi
Meski peluru tak ada lagi
Lempari batu harap usir mereka pergi
Kaum liberal, komunis sama saja
Terlebih zionis yang bawa duka
Ini hak kami bukannya tiada
Dimanakah sekutu Tuhan jika Ia bertanya
Mana hamba Tuhan kami
Yang berkata siap mati
Padahal tak punya nyali
Mulut mereka membawa duri
Palestina dimana kami berjaya
Harap yang dulunya adzan menggema
Bukannya peluru atau senjata
Bukan ambisi tentang harta dan tahta
Peruntukan pemimpin kami
Adakah bisa tertidur terlelap dibawa mimpi
Sementara bapak kami mati
Akan neraka tiada ngeri
Buai mimpi di tanah Palestina
Tanah yang dijanjikan-Nya
Tiada rasa kami berputus asa
Meski kemenagan belum didepan mata
Tabur bunga untuk syuhada
Ludah untuk para ulama
Yang tahu keadaan kami
Enggan menjenguk pelipur hati