Kamis, 19 November 2009

Kita, lemuria, atlantis, dan sisi gelap bulan

Tak peduli kau darimana
Enyah saja...
Sisakan sepi untukku

Tak peduli kau siapa...

Kita takjub pada dunia
Sembah-menyembah
Pikir aku salah

Atlantiskah? Lemuriakah?
Peduli saja kau padaku
Biar kata-kata ini berlari binalnya
Biar aku dipukuli sekalian

Gantian...
Kalian pikir aku salah

Beradabkah? Berilmukah?
Aku bilang sky passage
Kalian bilang aku gila

Tanya aku malu
Jadi sembunyi di balik layar
Jadi mengendap di sisi gelapnya bulan
Kalian pikir aku pecundang

Ketololan kita berasumsi
Buat ricuh
Buat rancu
Tanya kalian salah

Sudah lama kita hidup
Tak bisa ingat arti-arti

Rindu kami

Tak dinyana lagi
Kami yang sudah belangsak ini
Punya rasa yang sama
Kerinduan...

Tiada jauh berbeda
Antara pergi jauh
Dan ajal

Beriringan laknat Tuhan yang kami berikan
Tiada doa mungkin suram kuburmu

Kami berlupa disini
Bermain gila dengan dunia
Tenggelam dalam putaran detik

Tiada kami kenang
Kecuali ketika air mata
Melepaskan semua keluhnya
Lalu kami berlupa

Maafkan aku ibu...
Satu dari 4 anakmu

Di masjid

Kegaduhan apalagi
Yang kalian buat
Kacau disini
Dan yang jelas tersisa ria

Omong kosong apa lagi
Yang kalian muntahkan
Lesu berkedok...
Kalian nina-bobokan umat

Ini bangunan bagai tak berpagar
Tak berpondasi
Ada...
Tapi rubuh

Riuh decak-decak
Tepuk-tepuk bersorai
Kalian dustai Tuhan disini
Dan ajak kami juga

Kalian percaya tapi bagai atheis
(satu menista
yang lain gila... [red. chairil anwar])

(maybe it'll be) the last surprise

Kita duduk berdua
Memandang langit hampa
Bersama seberkas cahaya

Angin menerpa lembut hitamnya rambutmu

Bulan saja malu-malu tersipu
Tutupi wajahnya dengan kelabu

Deru jadi bising
Samarkan suara kecilmu

Dan kita masih duduk berdua
Disini...

Sepenggal kisah yang kau beritakan
Lebih jauh dari derita yang ku rasa

Ku coba hibur kau
Peluk cahaya bersama tawa
Berlari-lari sendiri
Hidupkan dirimu seperti putri
Lalu kutinggikan lagi layaknya bidadari

Kali ini kita sendiri-sendiri
Aku pergi menyambut ajal
Aku pergi menjemput takdir

Akhirnya tak berdua lagi kita menyepi
Karena aku lebih ingin diselimuti sepi

Satu pagi aku datang
Bawa oleh-oleh dan bawa mawar
Kau terlelap aku mengetuk malu-malu

Tepatnya mawar putih lalu aku beri
Berpamit lalu pergi

baghdad kini dulu

kertas...
tercabik-cabik...

bau gosong
apa ini...
pasukan mongol?

darah membanjiri
merah disini

apakah kita realita?
tanya bocah
berleher legam

tinta...
menghitam lautan di senja
ilmuku ilmuku

habis...
satu habis...
semua punah...

Aku dan Kau

kita hidup...
bukan satu atau dua hari

kita bertemu...
bukan di satu titik...
meski batasan kita terlalu jauh

pelbagai aroma yang diarungi
nafas-nafas alam yang masih ada
kau hempas lagi satu-dua ribu kehidupan

noktah-noktah masih ada...
bertebaran dipersimpangan
dan lagi-lagi hanyutkan sisa-sisa tenaga

kau bukan Tuhan
jangan mengaku

Korelasi waktu

Waktu masih sama saja
Berdetak...

Dengan konstanta ia lalui kenangannya

Dan dunia ini...
Masih terlalu sempit
Untuk melupakan segala
Menutupi semua kegilaan

Karena cinta...
Tidak dibenih dengan apa

Jadi tak ada tang tersisa
Tinggalah kita...
Yang dihinggapi cemas
Terhempas sia-sia

Selasa, 06 Oktober 2009

A Greed Boy

Ketamakan manusialah yang merubah segalanya
Dan aku pun seperti itu

Ingin pandai seperti Idris
Lalu dikawani Izrail
Abadi di tempat yang dibilang nirwana

Kami adalah kesegaran
Yang tak bisa kau padamkan itu

Seperti Isa yang selalu muda
Seperti Yusuf yang selalu tampan
Seperti Ibrahim yang selalu lantang

Kamis, 10 September 2009

About You and Butterflies

adalah kupu-kupu yang diterbangkan dengan sayapnya...
diterpa hujan naungan sedihmu...
hidupmu berkaca-kaca...

sekali lagi kau getarkan jiwa ini...
padahal ini hari kupu-kupu itu berajal...
hanya sehari sayang... tiada yang abadi...

adalah kau yang terbangkan aku tanpa sayap...
hanya dirimu...
merayu kalbuku sekali lagi...

dara... kemana kau pergi...

last time i forgot you
i'm so losing
i was afraid so

dara...
dara...
kemana kau pergi...

dara...
kemana kau bawa aku pergi...

sayapku terlanjur patah
mataku mengucur darah

dara...
aku masih bisa berlari
dan tak akan terhenti

dara...
aku ingin pergi
biar kau terbang sendiri
percuma kau merayu lagi

it's over

Rabu, 24 Juni 2009

Jika Kau Malam

Jika kau malam
Jadilah aku sepi yang akan temani
Senjamu adalah ketika kau datang dan aku sambut
Dan shubuhmu hanya aku yang berundung sedih diantara tiang-tiang agama

Jika kau malam
Naungi aku
Gelapkan aku lalu samarkan
Yang tersisa bisik-bisik
Karena semua hening

Jika kau malam bawa aku dalam damai
Buat tubuhku lunglai
Hidupku penuh nilai

Jika kau malam
Jadilah kau peri
Temani aku sepanjang gelapmu

Jikalau pun kau bukan malam
Jadilah seperti yang kurindu

Cermin dan Dunianya yang Kelabu

Aku lihat terang dalam gelap
Dan aku pun turut kelabu

Ku suka gelap dan kegelapan
Sepi dan kesepian
Sunyi dan kesunyian

Hanya bisa berduka saat ini
Tak bisa tertawa
Andai ku tak butuh teman
Andai ku bisa bahagia
Andai cerita-ceritaku bisa terlepas
Berlarian di hijaunya tirai surga
Menyelami di beningnya tiram laut
Menkafani jiwa ini

Derita duka biar ku bawa sendiri
Dan kau tak perlu tahu
Terlanjur malu
Terlanjur dipencundangi
Karena semua ini pilihan
Dan tidak untuk disesali

Mengapa laut masih saja biru
Mengapa duniaku jadi kelabu
Dan hidupku masih saja di dunia yang nisbi

Bujuk Aku Hidup Lama

Dunia...
Ayolah bujuk aku
Biar aku hidup lebih lama
Beri aku cicip rasa manismu
Mungkin akan mengejawantahkan kegusaran

Ayolah! Tuhan!
Dimana surgamu
Agar ku bisa makan
Dan minum dari sungai yang katanya mengalir dari sana

Akhir kan memang tak seharusnya indah
Dan andai ku tak harus mengawali semua ini

beri aku satu tegukkan karena aku sangat haus

Jumat, 12 Juni 2009

Masa Rindu

seorang anak dalam rimba
tersesat dan tak tahu akan kemana
hanya rindu dalam surga
rindu pada pelukan ibunya

semilir angin menggiurkan langkahnya
hanya hampa dibawa mondar-mandir

langkah nista ia jejaki
lalu terperosok

anak yang dimanjakan dunianya
anak yang termakan rayuan hatinya
dan nurani untuk apa ia ada

rindu kepada padi
disaat ia masih hijau
rindu pada angin
disaat ia menyapaku
rindu pada tenangnya rimba
saat mereka ku lintasi

yang tersisa hanya kenangan yang dirindukan
jejak kaki dan lumpur

Adalah Kami Pecundang

Biru langit mengharu
Ditombak gedung tinggi menjulang
Hutan kami tiada lagi
Tiada lagi untuk saat ini
Meski desir ombak tiada mau berhenti

Hijauku termakan merahmu
Kini yang tersisa hitam kita yang membumbung
Doa masih saja kamì lontarkan
Beserta air mata

Makan apa anak kami
Main apa cucu-cucu kami
Tuan kau gadaikan hutanku
Tuan kau buang semua hijauku
Kau rampas

Rimba kelana manakah kami berjuang
Dulu bambu runcing
Kini yang ada jadi tirai
Syukur-syukur untuk kami makan

Berani tuan tentang kami punya aturan
Kami bela tuan jika bela kami pula

Adakah kami punya wewenang
Sementara takdir saja hanya tunduk pada Tuhan tuan
Perubahan bekali kami kekuatan
Revolusi mana terakhir kami runtuhkan

Apakah manusia mulai menjadi pengecut
Untuk menghadapi kehidupan
Dan menelurkan generasi-generasi anak banci

Hanya semakin menghitamkan
Lalu menertawakan senja

Last Poem for Her

Senja... aku masih disini
Sendiri dingin menyepi

Gelap... Hentikan tawamu
Aku geli mendengarkan

Pagi... Hapus sedihmu
Jangan buat ku terlelap disisimu

Hanya bisa menanti
Hanya bisa...
Doakan saja aku bisa

Kemarin bahagia itu indah
Sekarang ku pikir sia-sia
Haha... Dan besok mungkin aku gila

Coba dalami lagi seperti kata mereka
Apalagi kehendak Tuhan Maha Bertahta

Kita berseri tunggu esok hari
Meski yang ada cuma kata bunuh diri
Atau apatis pikiran kita

Belenggu masih di dada
Sadarlah di harapanmu itu kosong
Tak laik lagi kau ada
Enyah saja...

I'll cut my fates if only you ask me
Don't ever dream
Nor to expect...

Hell's waiting never runs out
Or paradise wants me out

Aku Tertinggal di Taman Surga

gelap...
waktuku semakin gelap
bersemayam di temaramnya surga
aku tak tahu kemanaku dibawa

meski dahulu mukaku sempat bersinar
cahaya suci pancaran wudhu
kini semua sirna karena aku nista
karena dusta ada disana

waktu kini saat merimba
melupakan suram senja

berkelana...
ya... aku akan berkelana
hingga mereka sebut aku si jalang
si rupa tiada bernama
atau siapa entahlah

karena kau aku buta
ku sebut kau si duka
coba beritakan dirimu nanti
saat kau telah dewasa
biar tawamu makan sesak di dada

kini aku dimakan hampa
tiada tawa....
beri senyum malah terluka

ini-itu aku tiada peduli
yang ku inginkan engkau suatu saat nanti
saat ini baiknya kau pergi
karena kini ku kalah segalanya

tetapi urusan romansa
aku tidak sebodoh qabil
tidak akan pula senaas habil

Ku Berduka Tentang Lara

Duka bagaimanakah kau bicara
Sedang kau diam pun aku sakit

Jangan kau bertambah gila
Kau dan lara sudah cukup aku binasa
Jangan ditambah
Atau malah sebaiknya kau enyah saja

Duka bagaimanakah kau membantah
Jelas sekali kau bersalah
Dan sekarang aku lega

Duka dan kini ku bersenandung tentangmu
Senandung duka
Meski tiada pelipur lara

Itu

Diam.... Filosofi yg indah, bukan?

Bukankah diam itu emas??? Iya, kan?

Pengibaratan batu yg terlihat diam di sungai... Tidak mengikuti arus... Tidak pula melawan arus... Dia diam tetapi sebenarnya dia istiqamah menahan arus... Hanya bertahan... Bukan melawan...

Aku ingin diam...
Tetapi hatiku hidup berkelana

Apa Itu Demokrasi

masihkah ada langkah tegap serdadu ikhlas
sementara matahari saja belum sempat ke puncaknya
belum ada segelas keringat yang bercucuran
belum ada setetes darah pun untuk tujuannya

belum genap usiaku berkepala dua
ingin aku bicara tentang dunia
ingin aku bicara tentang cinta
yang nyatanya semua itu kosong
layak disebut sebagai si pemimpi

bolehkah aku bertanya
kenapa
mengapa
ada apa
bagaimana
bolehkah aku bergumam
hmmmmmm...

bukankah ini negeri bebas
yang populernya kalian bilang negara demokrasi

Selasa, 21 April 2009

jejak langkah

terjebak dalam kesepian
bawakan hati berlumur darah
tawamu ternyata masih menggema di lembah ini
sedihmu juga

terlahir berkembang selalu mendengarkan
mencoba untuk terdiam
melawan arus ternyata berat
atau aku hanyut
jejak kaki ini masih terlampau dalam
coba kutipiskan

matahari masih terlalu kejam
mari kita beristirahat

aku di sini menjangkau langit
aku di sini tenggelam
aku terkubur semakin dalam

Berhenti Berlabuh

muatan sudah disimpan
pergi lekas berlayar beri hembusan
karena sudah tidak ada cinta di pulau ini
suram senja di sini

tiada lagi tangan melambai
seperti datang berbeda pergi
seakan tiada jumpa walau sekali
mari kita berlupa sekali lagi

layar sudah dikembangkan
laksana elang hendak terbang
terlihat gagah memang
tapi tiada pengharapan yang akan datang

ternyata salah ku kira semua itu
harapan....
meski lama kita berlabuh (kiranya 10 bulan yang lalu)

hijau daun di antara gemericik air berjatuhan, air hujan kah? air terjun kah? atau air mata?

Ilusi dan Semua Berlalu

rintikan gerimis lagi-lagi mengguyur tubuhku
dingin tak ketinggalan menyeruak di hati
tubuh di atas pesakitan
beritahu derita duka
beritahu semuanya

lembab selimuti batin
buat resah buat gelisah
seakan semua melekat hari ini

cumbui nista coba beri kehebohan
bosan dengan kebohongan
tapi punahnya nurani terlupa

titip pesan dari dunia ilusi
titip hari ini dengan pasrah
titip esok dengan kebingungan

Sabtu, 28 Maret 2009

si pejalan kaki


Kehilangan...
Ketika nafas sebagian pergi
Dimangsa cahaya bulan dinginnya malam
Harapan tiada lagi

Asa duka masih tersisa
Bangkit bangun tertawa sepi
Jatuhkan butir-butir darah

Temaram lampu hiasi jalan
Pejalan kaki dengan segala keputus-asaannya
Sampai saat dunia bersinar membakar harapan

Tak pedulikan materi
Tak lagi
Tak akan pernah

Buasnya kegagalan menghantui jalan

biar kau hadir

samudra penuh tiram tenggelam
cahaya coba tembus sisi gelapnya
terbangkan pesut-pesut ikuti nalurinya
ketika anak manusia tak percaya apa yang dirasanya
dan tak terasa ribuan kali buih ombak menggerus pantai
tarik kembali lalu dihempaskannya lagi

karang menumbuhi kehidupan
dunia makin tak jelas
kadang beri warna
kadang beri suram
tawa gelak yang nantinya tenggelamkan kita
kesedihan yang menanggalkan ego

lupa aku tak mau berlupa
ingin rasanya teringat diingat
dibuai terbangun
luluhkan setiap air mata
bidadari-bidadari dari surga

genggam jemariku
coba untuk sengatkan ribuan volt
seperi ubur-ubur
bunuh setiap mereka yang hadir dalam hidupku
sisakan dirimu

Yang Terlupa

bayanganku
tentang mereka yang telah pergi
yang tak kembali tertinggal masa
terkubur terpendam besama ingatanku

hadirkan mereka di taman surga
wewangian menyengat basahi kalbu
bayanganku ada tetapi pudar
pudar kelam seiring waktuku

janggutku pun tiada henti
berhitamkan pigmen gelap anak manusia
aku dewasa mereka pun terlupa

Indiference

dingin tertanam
ketika masa kecil berlalu
beranjak dewasa masih tersisa
dan membeku
berkerak di dasar hati
menutupi kebenaran
hingga aku tersesat

mendasari wajahmu yang kelabu
aku jauhi kian tampak
tetapi kini tersamar kembali
aku tak bisa kembali
berpasrahkan kepada takdir

dingin beranjak dewasa
mungkin ingin mati muda

Kamis, 26 Maret 2009

Palestina!! fight for The God


Dahaga terik kebebasan

Dimana dunia dimanakah surga

Duka luruhkan hati

Derap debu mengulur waktu

Doakan kami wahai rabbi


Pacuan kuda terdengar tiada lagi

Zaman kini kami lawan besi

Meski peluru tak ada lagi

Lempari batu harap usir mereka pergi


Kaum liberal, komunis sama saja

Terlebih zionis yang bawa duka

Ini hak kami bukannya tiada

Dimanakah sekutu Tuhan jika Ia bertanya


Mana hamba Tuhan kami

Yang berkata siap mati

Padahal tak punya nyali

Mulut mereka membawa duri


Palestina dimana kami berjaya

Harap yang dulunya adzan menggema

Bukannya peluru atau senjata

Bukan ambisi tentang harta dan tahta


Peruntukan pemimpin kami

Adakah bisa tertidur terlelap dibawa mimpi

Sementara bapak kami mati

Akan neraka tiada ngeri


Buai mimpi di tanah Palestina

Tanah yang dijanjikan-Nya

Tiada rasa kami berputus asa

Meski kemenagan belum didepan mata


Tabur bunga untuk syuhada

Ludah untuk para ulama

Yang tahu keadaan kami

Enggan menjenguk pelipur hati


Apalagi mati untuk agamanya sendiri

Minggu, 22 Maret 2009

hilang part 2

Kehilangan...
Ketika nafas sebagian pergi
Dimangsa cahaya bulan dinginnya malam
Harapan tiada lagi

Asa duka masih tersisa
Bangkit bangun tertawa sepi
Jatuhkan butir-butir darah

Temaram lampu hiasi jalan
Pejalan kaki dengan segala keputus-asaannya
Sampai saat dunia bersinar membakar harapan

Tak pedulikan materi
Tak lagi
Tak akan pernah

Buasnya kegagalan menghantui jalan

Jumat, 20 Maret 2009

Hilang

tertawa dalam isak kesedihan
hilangkan dan lupakanmu
atas ketiada puasan hati
atau tak pahamkah
atau tiada rasa peka

hanya tenggelam berlarut
dalam kesia-siaan
tiadakah kepantasan
atau hasil yang tiada tertimbang
sudikah rembulan keluar dari gelap
tak lagi tenggelam berduka
akankah mentari dapat berbagi
kesetiaan untuk menyinari jalan penuh duri

desakan nurani tuk sayang
tiada berlupa tiada ber-asa
hidup-menghidupi satu nafas darimu

satu dua langkah coba tapaki lagi kehidupan
semoga kita nanti betemu lagi dengan nafas baru
ketika ego bukan lagi isapan
ketika dunia sudah terbiasa menjewer telinga kita

mari kita telusuri apa maunya Tuhan
lihat dan biarkan takdir menulis apa

Minggu, 08 Maret 2009

patah hati ketika beranjak dewasa

Aku belum puas
Dan memang tak akan
Manusia tak akan pernah puas

Mungkin memang...
Memang belum waktunya cinta bersemi
Memang kami terlampau muda
Masihlah terlalu panjang jalan kami
Masih banyak alur-alur yang harusnya kami tempuh

Terlalu...
Tentang dirimu terlalu egois bagiku
Sedang kaca kupecahkan pintakan dirimu
Kutinggalkan bayangku tuntutkan dirimu

Mungkin bengalnya manusia bunuh temannya rebutkan cintanya
Betapa hinanya
Betapa ruginya
Betapa teledornya


Cinta ataukah nafsu
Sebarkan bibit amarah
Taburkan peperangan
Hilangkan satu untuk satu
Betapa...
Betapa...
Betapa...


Perihal cinta
Adakah kedamaian
Ataukah hanya kekhawatiran
Kecemasan...
Yang menjamur
Bagai cendawan di musim hujan

Tentang patah hati
Adakah bagusnya
Hanyakah kekecewaan
Hanyakah kecengengan
Atau malah kenaifan

Beranjak dewasa
Kematangan...
Semoga itu ada padaku
Kejujuran...
Semoga tidak berkurang daripadaku
Kenaifan...
Tolong bantu kikis dia dari hatiku

Kenangan...
Bantu aku lupakan
Nantinya ia halangi aku jalan
Masa depan...
Ketika aku dianggap manusia
Ketika kau dibilang wanita
Aku akan datang
Meski harus terbuang