Jumat, 12 Juni 2009

Adalah Kami Pecundang

Biru langit mengharu
Ditombak gedung tinggi menjulang
Hutan kami tiada lagi
Tiada lagi untuk saat ini
Meski desir ombak tiada mau berhenti

Hijauku termakan merahmu
Kini yang tersisa hitam kita yang membumbung
Doa masih saja kamì lontarkan
Beserta air mata

Makan apa anak kami
Main apa cucu-cucu kami
Tuan kau gadaikan hutanku
Tuan kau buang semua hijauku
Kau rampas

Rimba kelana manakah kami berjuang
Dulu bambu runcing
Kini yang ada jadi tirai
Syukur-syukur untuk kami makan

Berani tuan tentang kami punya aturan
Kami bela tuan jika bela kami pula

Adakah kami punya wewenang
Sementara takdir saja hanya tunduk pada Tuhan tuan
Perubahan bekali kami kekuatan
Revolusi mana terakhir kami runtuhkan

Apakah manusia mulai menjadi pengecut
Untuk menghadapi kehidupan
Dan menelurkan generasi-generasi anak banci

Hanya semakin menghitamkan
Lalu menertawakan senja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar