Biru langit mengharu
Ditombak gedung tinggi menjulang
Hutan kami tiada lagi
Tiada lagi untuk saat ini
Meski desir ombak tiada mau berhenti
Hijauku termakan merahmu
Kini yang tersisa hitam kita yang membumbung
Doa masih saja kamì lontarkan
Beserta air mata
Makan apa anak kami
Main apa cucu-cucu kami
Tuan kau gadaikan hutanku
Tuan kau buang semua hijauku
Kau rampas
Rimba kelana manakah kami berjuang
Dulu bambu runcing
Kini yang ada jadi tirai
Syukur-syukur untuk kami makan
Berani tuan tentang kami punya aturan
Kami bela tuan jika bela kami pula
Adakah kami punya wewenang
Sementara takdir saja hanya tunduk pada Tuhan tuan
Perubahan bekali kami kekuatan
Revolusi mana terakhir kami runtuhkan
Apakah manusia mulai menjadi pengecut
Untuk menghadapi kehidupan
Dan menelurkan generasi-generasi anak banci
Hanya semakin menghitamkan
Lalu menertawakan senja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar