Rabu, 24 Juni 2009

Jika Kau Malam

Jika kau malam
Jadilah aku sepi yang akan temani
Senjamu adalah ketika kau datang dan aku sambut
Dan shubuhmu hanya aku yang berundung sedih diantara tiang-tiang agama

Jika kau malam
Naungi aku
Gelapkan aku lalu samarkan
Yang tersisa bisik-bisik
Karena semua hening

Jika kau malam bawa aku dalam damai
Buat tubuhku lunglai
Hidupku penuh nilai

Jika kau malam
Jadilah kau peri
Temani aku sepanjang gelapmu

Jikalau pun kau bukan malam
Jadilah seperti yang kurindu

Cermin dan Dunianya yang Kelabu

Aku lihat terang dalam gelap
Dan aku pun turut kelabu

Ku suka gelap dan kegelapan
Sepi dan kesepian
Sunyi dan kesunyian

Hanya bisa berduka saat ini
Tak bisa tertawa
Andai ku tak butuh teman
Andai ku bisa bahagia
Andai cerita-ceritaku bisa terlepas
Berlarian di hijaunya tirai surga
Menyelami di beningnya tiram laut
Menkafani jiwa ini

Derita duka biar ku bawa sendiri
Dan kau tak perlu tahu
Terlanjur malu
Terlanjur dipencundangi
Karena semua ini pilihan
Dan tidak untuk disesali

Mengapa laut masih saja biru
Mengapa duniaku jadi kelabu
Dan hidupku masih saja di dunia yang nisbi

Bujuk Aku Hidup Lama

Dunia...
Ayolah bujuk aku
Biar aku hidup lebih lama
Beri aku cicip rasa manismu
Mungkin akan mengejawantahkan kegusaran

Ayolah! Tuhan!
Dimana surgamu
Agar ku bisa makan
Dan minum dari sungai yang katanya mengalir dari sana

Akhir kan memang tak seharusnya indah
Dan andai ku tak harus mengawali semua ini

beri aku satu tegukkan karena aku sangat haus

Jumat, 12 Juni 2009

Masa Rindu

seorang anak dalam rimba
tersesat dan tak tahu akan kemana
hanya rindu dalam surga
rindu pada pelukan ibunya

semilir angin menggiurkan langkahnya
hanya hampa dibawa mondar-mandir

langkah nista ia jejaki
lalu terperosok

anak yang dimanjakan dunianya
anak yang termakan rayuan hatinya
dan nurani untuk apa ia ada

rindu kepada padi
disaat ia masih hijau
rindu pada angin
disaat ia menyapaku
rindu pada tenangnya rimba
saat mereka ku lintasi

yang tersisa hanya kenangan yang dirindukan
jejak kaki dan lumpur

Adalah Kami Pecundang

Biru langit mengharu
Ditombak gedung tinggi menjulang
Hutan kami tiada lagi
Tiada lagi untuk saat ini
Meski desir ombak tiada mau berhenti

Hijauku termakan merahmu
Kini yang tersisa hitam kita yang membumbung
Doa masih saja kamì lontarkan
Beserta air mata

Makan apa anak kami
Main apa cucu-cucu kami
Tuan kau gadaikan hutanku
Tuan kau buang semua hijauku
Kau rampas

Rimba kelana manakah kami berjuang
Dulu bambu runcing
Kini yang ada jadi tirai
Syukur-syukur untuk kami makan

Berani tuan tentang kami punya aturan
Kami bela tuan jika bela kami pula

Adakah kami punya wewenang
Sementara takdir saja hanya tunduk pada Tuhan tuan
Perubahan bekali kami kekuatan
Revolusi mana terakhir kami runtuhkan

Apakah manusia mulai menjadi pengecut
Untuk menghadapi kehidupan
Dan menelurkan generasi-generasi anak banci

Hanya semakin menghitamkan
Lalu menertawakan senja

Last Poem for Her

Senja... aku masih disini
Sendiri dingin menyepi

Gelap... Hentikan tawamu
Aku geli mendengarkan

Pagi... Hapus sedihmu
Jangan buat ku terlelap disisimu

Hanya bisa menanti
Hanya bisa...
Doakan saja aku bisa

Kemarin bahagia itu indah
Sekarang ku pikir sia-sia
Haha... Dan besok mungkin aku gila

Coba dalami lagi seperti kata mereka
Apalagi kehendak Tuhan Maha Bertahta

Kita berseri tunggu esok hari
Meski yang ada cuma kata bunuh diri
Atau apatis pikiran kita

Belenggu masih di dada
Sadarlah di harapanmu itu kosong
Tak laik lagi kau ada
Enyah saja...

I'll cut my fates if only you ask me
Don't ever dream
Nor to expect...

Hell's waiting never runs out
Or paradise wants me out

Aku Tertinggal di Taman Surga

gelap...
waktuku semakin gelap
bersemayam di temaramnya surga
aku tak tahu kemanaku dibawa

meski dahulu mukaku sempat bersinar
cahaya suci pancaran wudhu
kini semua sirna karena aku nista
karena dusta ada disana

waktu kini saat merimba
melupakan suram senja

berkelana...
ya... aku akan berkelana
hingga mereka sebut aku si jalang
si rupa tiada bernama
atau siapa entahlah

karena kau aku buta
ku sebut kau si duka
coba beritakan dirimu nanti
saat kau telah dewasa
biar tawamu makan sesak di dada

kini aku dimakan hampa
tiada tawa....
beri senyum malah terluka

ini-itu aku tiada peduli
yang ku inginkan engkau suatu saat nanti
saat ini baiknya kau pergi
karena kini ku kalah segalanya

tetapi urusan romansa
aku tidak sebodoh qabil
tidak akan pula senaas habil

Ku Berduka Tentang Lara

Duka bagaimanakah kau bicara
Sedang kau diam pun aku sakit

Jangan kau bertambah gila
Kau dan lara sudah cukup aku binasa
Jangan ditambah
Atau malah sebaiknya kau enyah saja

Duka bagaimanakah kau membantah
Jelas sekali kau bersalah
Dan sekarang aku lega

Duka dan kini ku bersenandung tentangmu
Senandung duka
Meski tiada pelipur lara

Itu

Diam.... Filosofi yg indah, bukan?

Bukankah diam itu emas??? Iya, kan?

Pengibaratan batu yg terlihat diam di sungai... Tidak mengikuti arus... Tidak pula melawan arus... Dia diam tetapi sebenarnya dia istiqamah menahan arus... Hanya bertahan... Bukan melawan...

Aku ingin diam...
Tetapi hatiku hidup berkelana

Apa Itu Demokrasi

masihkah ada langkah tegap serdadu ikhlas
sementara matahari saja belum sempat ke puncaknya
belum ada segelas keringat yang bercucuran
belum ada setetes darah pun untuk tujuannya

belum genap usiaku berkepala dua
ingin aku bicara tentang dunia
ingin aku bicara tentang cinta
yang nyatanya semua itu kosong
layak disebut sebagai si pemimpi

bolehkah aku bertanya
kenapa
mengapa
ada apa
bagaimana
bolehkah aku bergumam
hmmmmmm...

bukankah ini negeri bebas
yang populernya kalian bilang negara demokrasi