Jumat, 29 Oktober 2010

Frame

Jas hitam...

      Champagne...

               Musik pesta...

Jas hitam...

      Champagne...

               Musik pesta...

Jas hitam...

      Champagne...

               Musik pesta...



rambut rapih terjambak...

sesal...

kesal...

anak tangga putih...



Cheers!

Musik!

Hingar-bingar!

galau

Gema. Dan kabut yang bercampur dalamnya;
suara hening gelak tawa dalam labirin
hutan dan drama berpacu
semua genting tersisa keringat dan kecemasan

Api memerah di bukit
datang si kancil
aduh! tersungkur

teriakku memecah, Tuhan! Aku ingin menyepi tak perduli meski Kau mati;

jalan berkelok-kelok tambah batu
tambah segenang sungai ada kabut.
mungkin kau masih bisa bersembunyi disana: tapi tidak!!!

hahahaha

ayo kita mati
tapi sebelumnya kita bersenang
hidup bebas meski dibilang pecundang
ayo kita berlari
berlari

ayo kita bebas
terjang semua
hadang semua
kita hunus semua belati
jangan takut mati
kita hidup sekali
lalu sekali lagi

ayo kita terbang
yang di bawah?
jangan dihirau

ayo kita melayang
berpesta-pora
karena kita adalah binatang
lalu mereka bilang kita sinting;
acuhkan saja kawan!

sekali lagi berlari kawan
mari kita berlari
berputar-putar lalu menari

setelah itu?
mari kita mati
bunuh diri
atau biarkan sesak sendiri

titah raja beranak tiga

musim dingin datang titah raja beranak tiga
bakar hutan atas bukit hingga pelupuk
laju hijau jadi merah menyala
dimana tuan kuasa segala sukma

atas bukit terpa angin
datang kakek beruban putih tanpa suara
bawa titah raja
lalu bakar semua

tuan datang belati menghunus
bela negeri atas bukit
tentang titah raja beranak tiga

satu mati tiga anak raja ilang sukma
lari maju
lari jauh

datang angin dingin berkabut cahaya
datang api utara
api selatan
atas bukit hilang sunyi
api lalap sana
hangus

musim dingin datang titah raja beranak tiga
lalu hijau jadi merah menyala

Ibu

dalam kesederhanaannya kuhirup kasih sayang
dan lagi kubuatkan nisan sederhana untuknya

hidup mungkin dulunya adalah pilihan untuknya
tetapi kini pergi adalah harga mati untuknya
tetap hidup
atau mati

dalam pelukannya kita belajar
arti satu dua pengorbanan
yang nantinya tak berjumlah

hidupku pun sempat punah
dalam ombang-ambing binasa
jadi binal tanpa kekang
tapi arti hadir memorinya melumat semua

dan tangis kini tiada arti
kehilanganmu
yasudahlah
hanya doa
hanya doa
sepertinya hanya itu yang kutahu

"ibu kau campur adukkan kami
dalam problematika
kami terlahir
dan akan selalu kami syukuri itu

ibu! aku ingin bertaubat
lalu segera...
sesegera mungkin menyusulmu

ibu! kali ini kami menangis
hanya kau dan Gusti Pangeranlah yang tahu
ini tangis buaya atau bukan

ibu! kami tidak mengerti arti bunuh diri
yang kami tahu ingin segera ada disisimu"

ini puisi dari aku, satu dari empat anakmu, pendesain kuburanmu..

atheist

hari ini masih kami terdampar
dalam kehausan akal
dimaki-maki kata "atheis"

menghujam lagi rasa-rasa
dimana kami terasa hampa
dalam gelap...
dalam sunyi...
dalam tertawaan sinis pemuja setan

kami muak yang seperti ini
pindah frase?
mungkin lebih bak...
sepertinya jingkrak-jingkrakan dimalam hari lebih menyenangkan, ya kan?
kami beriman rasa atheis

bogor-sukabumi-pelabuhan ratu *javatrip

dalam kereta penuh warna dalam keremangan
penuh aroma ketika bersesakan
dan akhirnya kita pun bebas berlari

sebelumnya matahari pun tak bisa mengekang
jadi pengecut dibalik awan
yang tampak hanya bolatan putih kecil
yang manis dan kemayu
dingin?
jangan tanya

ini hanya debat-debat kecil
masalah analisis yang bisa diabaikan
malah kita menang
hingga ke ujung pun kita sampai
batas horison di pelabuhan ratu

hijau...
semua hijau berkelebat
berselimut kabut tanpa malu
apalagi tersipu
semuanya kosong
yang tersisa?
dingin

dimalam kami berpesta
bergumul ditengah pentas kehidupan manusia
meski asing
kami ada

kembali lagi dikereta
turun di gambir
yang terasa?
aduhai panas nian

jawaban seorang yang berlari

banyak orang yang merasa tersesat
hanya berdiam diri
mereka bilang sabar
padahal berusaha pun enggan
dan berkata "jalani saja semua ini apa adanya"

pikir mereka itu takdir
harus dihadapi dengan sabar
bergerak pun tidak

saya pikir
untuk apa berlama tenggelam dalam masalah
menetap di satu titik kejenuhan

karena
bumi ini luas
ayo kita bergerak
ilmu itu banyak
mari kita pecahkan semua kegaduhan ini

"saya tidak berlari dari takdir saya, tetapi saya berlari menuju takdir saya yang lain"

p.u.i.s.i

kau dalam sinar matamu
biaskan malam tanpa penghuni
bayanganku pun enggan

ini angin coba menemani
kutolak...
aku ingin
hanya dirimu...
kehadiranmu meski maya

aku punya daya
bahkan lebih dari seribu langkah
menuju tempatmu
mengunci dalam-dalam perasaan ini
dalam hatimu

kau pikir ini jauh?
aku bilang tidak
untuk kau

untuk semua layangan yang akan kuterbangkan
biar melintas sekonyong-konyong dalam benakmu

tanpa api
kita hidup
meski dingin
tapi yang kutahu
itu semua demi dirimu

kita akan ke laut
ke puncak
tapi apa arti?
jika tanpa hati

aku hanya ingin menyebutkan cinta
tanpa kata cinta
agar tiada luka
agar tiada duka
kelak...

rasa sayang
bukan hasrat
biar nanti kita bisa terbang
tanpa berlabuh
atau terjatuh

jika kau ingin kita jadi tabu
bungkam saja
aku mengerti
lalu kita jadi debu

kau masih dalam sinar matamu
jadi aku atau dirimu atau kita
yang akan beremayam
hanya kau tahu
dan aku tahu
dimalam ini

nanti, mungkin, kelak

kepada wanita-wanitaku
mari kita ganti topik perbincangan
karena kusudah muak dengan percintaan
alamku masih biru terbanyur hujan semalam
yang tadinya kalian pikir gelap

hirau?
tak usahlah dihiraukan lagi
aku pergi
kalian pun pergi
dan kitapun seperti ilalang

impas?
mungkin tidak...
tapi kita sudah tidak punya waktu
untuk membalas dendam
bara... bara... bara...

dan...
buang saja sloganmu
karena dulunya aku seorang penjilat
yang kau benci
yang kau cinta

kepada wanita-wanitaku
disini inginku
disini jalanku
aku mau hidup
mungkin tak seperti chairil
ingin seribu tahun

jangan kau cerita aku punya ego
karena aku masih ingin yang lain
nanti...
mungkin...
kelak...

senja ini

senja ini masih bersisa
sengaja kusisakan untuk menghela
apa yang selama ini kita irikan

aku masih dengki?
ya!

nafas ini masih basah
antara uap dan asap
apa-apa yang selama ini kita hisap

badan belum penuh dengan peluh
kita sudah mengeluh
karena dengki hanya bisa bersarang
dan terus membara

seribu duka untuk palestina

seribu duka untuk palestina
dari darah yang memijar
dari desingan peluru tanpa sesal

seribu tawa anak memudar
kasih ibu jadi tak wajar
melihat suaminya dihajar
oleh...
seribu mortir tanpa gusar

lirik mungkin cuma sampah
tak seperti teriakan bung tomo
yang katanya membakar
semoga dengan ini kita sadar

kita kaya
tuhan beri apa yang kita minta
kita cerdas
tetapi dibodohi dari dasar
kita kuat
tetapi pemimpin kita lemah
untuk lebih dari sekedar berujar
kita iba
tapi ditutupi kemunafikan

seribu duka untuk palestna
seribu tanda tanya untuk yang kini kita lakukan

this aint real, is it?

when we woke up, which was heard only in a low voice ... wind and it's ridicule ...
if properly realized, was packed with weeping ear
Our kids are not hungry in the deletion of this night
Our city was quiet, quiet as revolution of our leaders

Puisi Siang-malam

Siang mencari penghidupan
Malam juga masih mencari
Siang malam terus berganti
Tak tahukah tangan-kaki kami melepuh kapalan

Hari berganti
Hidupku tetap begini
Tak berubah
Tak Berarti

Sedang anak-beranak bernyanyi
Bukan minta dihargai
Tapi tuk sekedar dikasihani
Untuk diibai
Terus bernyanyi
Walau apa kata hati kami
Terus bernyanyi

Kami masih hidup
Dan masih mencari penghidupan
Untuk esok beri tawa pada anak kami

Siang kami hidup berkeringat
Malam Kami hidup menggigil
Siang-malam masih terus berlalu
Lewatkan ingatan begitu saja

Lalu berhenti sejenak di persimpangan
Bersama anak-beranak yang bernyanyi
Untuk sekedar mengisi hidup
Bukan untuk dihargai tapi untuk dikasihani

pintaku

elok pintaku terbatas
berbaring dibawah garis batas
antara nyata dan impian

masih adakah tempat untuk buku

berdebu...
terbatas bingkai kayu
usang...
tergeletak tanpa ragu

buku itu hidup
seperti kayu
hidup menghidupi

seperti tiap keringat
para penulis
dalam kening lapar anak bininya

seperti darah
dalam anak bininya
yang dimakan pagi dan petang

buku adalah jendela dunia
yang ditutup oleh
sampul harga termahal
bagi si miskin

bukuku
bukumu
tergeletak layu

bukuku
bukumu
dimadu oleh waktu

perang vietnam

karenamu kami sengsara
anakku cacat

darah yang kau tumpahkan
menjijikan
kau jilati harta kami
sebelum kau rampas

kau berdamai
sebelum tusuk kami
lalu racuni kami

kalian gila dengan semua persepsi yang ada
takut?
kalian takut
kalian gila
kalian cemas

karena kami ada di depan
dilubang sempit
tak bercelah untuk kalian

kami selalu melawan
dan akan selalu

kalian hancurkan negeri kami
hanya karena takut
kalian racuni kami
takut pada penerus kami

kalian pikir berkuasa?
berpesta lalu nikmati?
jangan tidur sebelum kami mati

untuk rakyat vietnam yang diracun senjata kimia
untuk irak yang diporak-porandakan
untuk palestine yang masih terjajah
untuk afghanistan yang dikambinghitamkan
untuk dunia yang cinta damai

kabar duka

kabar kematian dua kali kulihat
meski terlewat...

untuk kawanku yang berduka
untuk dia yang berduka

ingin kubertanya kepada Tuhan
bukan menghujat...
tentang hidup
tentang mati
mana yang lebih penting

ini nyata
ketika dia hanya bisa menangis
dan tak ada alasan untuk berhenti

ini nyata
ketika dia bingung
kepada siapa dia kan bersandar

ini kematian...
ini duka...
tak bisakah kita mengira?
dan tenggelam dalam lukanya

untuk dia yang berduka
ditinggal pergi bundanya
"vidi aprilia"

sebelum gugur

tentang gelap
yang lagi-lagi kau beritakan
dan duka yang berserak
mengerak

karena kita bodoh lalu jadi bangkai
terhalang asap-asap kabut menutupi lalu jadi bangkai lagi

berteriak tentang mawas
menari-nari
dan hidup bersama pelipur
harap sebelumnya gugur

jadikan kami obor
biar bakar semua kelakar
jadikan kami cahaya
biar obrak-abrik gelap sekalian
sebelum gugur
sebelum abu dari bara

perenungan tahun...................

alur belakangan ini
adalah kebodohan yang terpendam
mengental lalu memuncak
melangkahi batas
dari ambang dan lebih lagi

alur belakangan ini
mengabur
menjadi blur
tak tergambar

perenungan cuma jadi omong kosong
bohong...
dan kebohongan ingin membela
menutupi sisi
membuka sisi lainnya

tahun-tahun hanya berganti
dari satu ke depan yang lebih genap
ke ganjil lagi
cuma tawa tanpa bahagia
cuma tangisan tanpa makna

kesadaran hanyalah satu cara
mengangkat yang akan selalu terjatuh
terjatuh...
tak bangkit takut ketinggian

aku ingin buta
biar bersyukur
rasa apa yang mereka rasa
ingin apa yang mereka ingin

mungkin terlalu lama tenggelam
tanpa kesigapan
tanpa kesiapan

kita lengah
terlena
kita lemah
lalu punah

ode pemuda hari ini

ada pekik tangis
lekas bangun, bung!
meski kau bukan pahlawan

ada tertawaan
jangan sindir, bung!
hargai sedikit itu cukup

udara dan eidellweiss bercampur
hujan dan embun hilang
bersama pelangi dan laskarnya
coba nikmati, bung!

bung! ayo bung!
satu langkah
kita halau semua
kita tindas penindas
bung! ayo bung!
dendam nyatanya tidak untuk dibalas
cukup kita rampas yang terampas
meskiku terhempas
meskikau terhempas

kita berakar menjalar
tanpa sulut pun kita bakar
bung! ayo bung!
bebaskan kekang
ayo lari kencang

deru sarkasme seorang liberalis

untuk kami yang terlahir
liar...
dipenuhi kenikmatan...
bebas...

tak mengerti arti kerja keras
tak dan sedikitpun tidak...

belenggu Tuhan akan iman
belenggu umat
dalam setiap tarikan dan hembusan
tak juga kami rasakan

kertas kosong...
gelas kosong...
mau kami umpamakan apa lagi?
untuk kesucian kami...

dibelakang kami dusta mendustai
khianat...
bangsat!

dibelakang kami juga vokal
jatuh menjatuhkan kau yang kami banggakan

dibelakang pula...
semua terjadi...
nista bergulir...