ada deru dalam angin
ada kisah terhapus
seperti jejak di pasir
ada luka terobati
ada sendu yang terlupakan
seperti daun yang begitu saja terjatuh
seperti kisah romeo
tetapi berlalu begitu saja...
terlalu rapuh
aku di matamu
hanya kumpulan sajak berjalan
tiada harga tanpa tinta
ada suka yang kita lupakan
dengan jenuh yang kita jejalkan
tanpa sisa...
Minggu, 17 Januari 2010
Cerberus
aku hidup dengan cerberus
dengan tiga mulutnya
yang ingin kumaki biar diam
dan ingin kutikam
agar tidak ada nafas yang jadi dendam
aku hidup dengan cerberus
penjaga dan teman di neraka
datang menjemput...
untuk siapa?
hitam legam dan liur yang menyeruak
matanya...
matanya bagai api menyala di jantung para pezina
sepanas nafas pemabuk di jalanan
segelap aku...
aku berkawan dengan cerberus
dalam kelam
yang menarikku di nadi
memutuskan aorta aliri otak
dengan tiga mulutnya
yang ingin kumaki biar diam
dan ingin kutikam
agar tidak ada nafas yang jadi dendam
aku hidup dengan cerberus
penjaga dan teman di neraka
datang menjemput...
untuk siapa?
hitam legam dan liur yang menyeruak
matanya...
matanya bagai api menyala di jantung para pezina
sepanas nafas pemabuk di jalanan
segelap aku...
aku berkawan dengan cerberus
dalam kelam
yang menarikku di nadi
memutuskan aorta aliri otak
ambisi
ada tanjung dalam harapan
hingga es di daerah nordik
ada zamrud dalam belantara
beserta palung yang lebih dalam
ada darah yang mesti ditumpahkan
ada nyawa yang harus dikorbankan
ada wanita yang harus ditinggalkan
dan ada kegelapan yang harus dilenyapkan
liar...
kau hinggapi
mencumbu hingga binal otak kami
ada tombak yang mesti dilempar
ada pedang yang perlu dikibaskan
eurasia hingga oceania
dari tundra sampai hutan tropis...
dan masih menunggu raja
untuk kejayaan yang dipersembahkan
hingga es di daerah nordik
ada zamrud dalam belantara
beserta palung yang lebih dalam
ada darah yang mesti ditumpahkan
ada nyawa yang harus dikorbankan
ada wanita yang harus ditinggalkan
dan ada kegelapan yang harus dilenyapkan
liar...
kau hinggapi
mencumbu hingga binal otak kami
ada tombak yang mesti dilempar
ada pedang yang perlu dikibaskan
eurasia hingga oceania
dari tundra sampai hutan tropis...
dan masih menunggu raja
untuk kejayaan yang dipersembahkan
Pantai Kuta
tepian asa
kegembiraan...
diatara petikan dawai dan alunan harmonika
di pantai dalam realita setengah imajinasi
tercakar pasir-pasir
dimaki-maki gelombang
untuk berhenti
lunglai tubuh dengan topi miring
berjalan susuri garis-garis pantai
terucap komat-kamit dalam mulut penuh alkohol
dimana kita tanpa akal?
hanyutkah?
berlarut-larut dalam kekecewaan
surga di kakipun tak terasa
lalu angin datang menampar untuk sadar..
kegembiraan...
diatara petikan dawai dan alunan harmonika
di pantai dalam realita setengah imajinasi
tercakar pasir-pasir
dimaki-maki gelombang
untuk berhenti
lunglai tubuh dengan topi miring
berjalan susuri garis-garis pantai
terucap komat-kamit dalam mulut penuh alkohol
dimana kita tanpa akal?
hanyutkah?
berlarut-larut dalam kekecewaan
surga di kakipun tak terasa
lalu angin datang menampar untuk sadar..
Mari kita dengarkan angin
Kau tahu?
Angin itu berbisik
Bukan mendengkur
Ataukah kita mulai tuli
Tak lagi bisa merasa
Kau tahu?
Ini bukan saatnya bercumbu...
Angin itu berbisik
Bukan mendengkur
Ataukah kita mulai tuli
Tak lagi bisa merasa
Kau tahu?
Ini bukan saatnya bercumbu...
Kintamani-Denpasar
kuyup...
yang tersisa basah dan menggigil
kau bilang air
aku bilang batu
menghunus nadi...
jalan masih panjang
tetapi keluhku sudah lebih
takut mati?
tidak...
aku lebih baik disini...
bukan sepertimu
di atas ranjang...
kau tahu?
air dan angin jadi musuhku
yang ceria karena kawanku jadi berkubang
haha...
seperti babi gemuk
seperti anjing-anjing yang kau rawat...
muntahkan saja kalau berani
kintamani...
tinggi menjulang dicampur debu dicampur kabut
denpasar...
kami rindu laut
anggap saja ini makian
terakhir di tahun ini...
yang tersisa basah dan menggigil
kau bilang air
aku bilang batu
menghunus nadi...
jalan masih panjang
tetapi keluhku sudah lebih
takut mati?
tidak...
aku lebih baik disini...
bukan sepertimu
di atas ranjang...
kau tahu?
air dan angin jadi musuhku
yang ceria karena kawanku jadi berkubang
haha...
seperti babi gemuk
seperti anjing-anjing yang kau rawat...
muntahkan saja kalau berani
kintamani...
tinggi menjulang dicampur debu dicampur kabut
denpasar...
kami rindu laut
anggap saja ini makian
terakhir di tahun ini...
Penari-penari tuli di Bali
Aku ingin hidup dalam kemusykilan
Terjauh dari arogansi
Bebas terjatuh
Lalu melompat bila kumau
Layaknya lenggak-lenggok penari
Yang meski kalian maki
Tiada rasa perduli
Mungkin tuli...
Sekali saja aku bisa hirup aroma ini
Aroma candu budaya bumi pertiwi
Dalam alunan musik sederhana
Di atas surga pentas dunia
Berpanggungkan batu
Sekali lagi aku ingin hidup
Dalam kemusykilan
Bukan terpenjara...
Dibodohi adat turun temurun
Terjauh dari arogansi
Bebas terjatuh
Lalu melompat bila kumau
Layaknya lenggak-lenggok penari
Yang meski kalian maki
Tiada rasa perduli
Mungkin tuli...
Sekali saja aku bisa hirup aroma ini
Aroma candu budaya bumi pertiwi
Dalam alunan musik sederhana
Di atas surga pentas dunia
Berpanggungkan batu
Sekali lagi aku ingin hidup
Dalam kemusykilan
Bukan terpenjara...
Dibodohi adat turun temurun
Sore-sore
Lagi tangan kiriku bergetar...
Menampar untuk sadar...
Sementara yang kanan menulis
Karangan untuk para iblis
Yang tersisa asap-asap menggelepar
Puntung-puntung terkapar
Bersama-sama impian yang tak lagi tergambar
Sore ini tidak lagi arogan...
Seperti biasanya
Yang ada hanya kelembutan sinar terpancar
Ajak aku untuk menohok...
Teriakku! "dunia ini terlalu luas, bung! Sayang kalau kau mati disini!"
Masih ada yang lebih sempit dari pikiranmu
Jauh lebih luas dari dadamu
Lebih hijau dari daun dan matamu
Lebih gelap dari hati
Milik kita...
"hahh! Hati milik kalian???" tanya dinding yang ragu
Tambah saja bergetar...
Tangan ini...
Yang kita punya tapi terpasung
Menampar untuk sadar...
Sementara yang kanan menulis
Karangan untuk para iblis
Yang tersisa asap-asap menggelepar
Puntung-puntung terkapar
Bersama-sama impian yang tak lagi tergambar
Sore ini tidak lagi arogan...
Seperti biasanya
Yang ada hanya kelembutan sinar terpancar
Ajak aku untuk menohok...
Teriakku! "dunia ini terlalu luas, bung! Sayang kalau kau mati disini!"
Masih ada yang lebih sempit dari pikiranmu
Jauh lebih luas dari dadamu
Lebih hijau dari daun dan matamu
Lebih gelap dari hati
Milik kita...
"hahh! Hati milik kalian???" tanya dinding yang ragu
Tambah saja bergetar...
Tangan ini...
Yang kita punya tapi terpasung
korelasi dari kemarin hingga pagi ini yang menguning
bercampur dalam kelam
air kini yang mulai mengental
kotor...
kau angkatku dalam penatku
bersih...
suci...
kau kembalikan jiwaku
seperti kau hidupkan kembali organ-organmu
dalam tarikan nafasmu...
kini lagi kutenggelam
dalam ke-bohemian-anku
berlarut-larut...
tak terhenti...
menjamah ke-introvert-an
di sore buta lagi kudatang
tanpa bunga mawar...
tanpa apa yang kau damba...
sederhana saja kudatang...
dan kita pun duduk bersahaja
berteduh pada Syzygium samarangense depan rumahmu
dan teori-teori para spekulan pun terjatuh
runtuh...
buyar...
punah...
yang tersisa...
ku terbangun di pagi yang kuning
dan ku sadar...
kusudah kembali dalam kubanganku
jadi binal...
ya!
bertambah binal...
air kini yang mulai mengental
kotor...
kau angkatku dalam penatku
bersih...
suci...
kau kembalikan jiwaku
seperti kau hidupkan kembali organ-organmu
dalam tarikan nafasmu...
kini lagi kutenggelam
dalam ke-bohemian-anku
berlarut-larut...
tak terhenti...
menjamah ke-introvert-an
di sore buta lagi kudatang
tanpa bunga mawar...
tanpa apa yang kau damba...
sederhana saja kudatang...
dan kita pun duduk bersahaja
berteduh pada Syzygium samarangense depan rumahmu
dan teori-teori para spekulan pun terjatuh
runtuh...
buyar...
punah...
yang tersisa...
ku terbangun di pagi yang kuning
dan ku sadar...
kusudah kembali dalam kubanganku
jadi binal...
ya!
bertambah binal...
Inciendie!!! brasier!
tinggal asap... tinggal bara...
semua hangus sisa arang
rumahku jadi merah
sama atau lebih dari darah
"untuk siapa?"
kau datang...
sisakan sejuta aroma kebusukan
bawa kami titik terang
untuk memberontak
exodus...
mungkin itu tujuan
atau cuma pengalihan
semua hangus sisa arang
rumahku jadi merah
sama atau lebih dari darah
"untuk siapa?"
kau datang...
sisakan sejuta aroma kebusukan
bawa kami titik terang
untuk memberontak
exodus...
mungkin itu tujuan
atau cuma pengalihan
Kejujuran dalam alunan sebotol vodka
Tuhan...
Dalam sedih kumengadu
Dalam sendu kumenggerutu
Tiada sabar...
Tuhan...
Dengarkan aku yang berujar
Maafkan aku yang kurang ajar
Dalam rindu kumenyembahmu
Dalam khilaf kumelupakanmu
Kadang dipelupukmu kumenghinamu
Dalam jubah congkakku
Kuberujar...
"amboi! Andai badan ini mati saja"
Tuhan...
Tiada khusyuk kusembah dirimu
Kubersemangat menghujatmu
Tiada daya... Aku lemah...
Badanku...
Jiwaku...
Akalku..
Dalam pelukmu kukembali mengadu
Aku hina...
Binal...
Jalang...
Mungkin aku binatang
Tuhan...
Dalam alunan sebotol vodka
Kumalu... Aku masih hambamu
Dalam sedih kumengadu
Dalam sendu kumenggerutu
Tiada sabar...
Tuhan...
Dengarkan aku yang berujar
Maafkan aku yang kurang ajar
Dalam rindu kumenyembahmu
Dalam khilaf kumelupakanmu
Kadang dipelupukmu kumenghinamu
Dalam jubah congkakku
Kuberujar...
"amboi! Andai badan ini mati saja"
Tuhan...
Tiada khusyuk kusembah dirimu
Kubersemangat menghujatmu
Tiada daya... Aku lemah...
Badanku...
Jiwaku...
Akalku..
Dalam pelukmu kukembali mengadu
Aku hina...
Binal...
Jalang...
Mungkin aku binatang
Tuhan...
Dalam alunan sebotol vodka
Kumalu... Aku masih hambamu
Mon Histoire Invraisemblable
Decak bukan tanpa arti
Kami bukan manusia dikagumi
Atau terlalu disayang
Lunglai kami berjalan
Tergantung jas berbau wine
Di lorong sepi
Tempat nafsu binal memuncak
Lalu kami nyanyikan lagu derita
Hingga terlelap dimakan lelah
Malam ini kian sepi
Hanya ada duri
Hanya ada tawa bidadari
Dan kumpulan mimpi manusia gila
Selebihnya? Binal!!!
Kami bukan manusia yang gemar
Dengan segala rutinitas
Seperti ayah berangkat shubuh
Pulang malam...
Pentingkah???
Hahahaha...
Tawa bidadari disusul kepak sayapnya
Yang bosan...
Adakah arti manusia bagi kami???
Atau kehidupan???
Dasar...
Bocah kemarin sore...
Dengan pemikiran lepasnya
Malam ini kami kian gila
Terlepas dari kesal
Terlepas dari sesal
Entah esok masih ada...
Kami bukan manusia dikagumi
Atau terlalu disayang
Lunglai kami berjalan
Tergantung jas berbau wine
Di lorong sepi
Tempat nafsu binal memuncak
Lalu kami nyanyikan lagu derita
Hingga terlelap dimakan lelah
Malam ini kian sepi
Hanya ada duri
Hanya ada tawa bidadari
Dan kumpulan mimpi manusia gila
Selebihnya? Binal!!!
Kami bukan manusia yang gemar
Dengan segala rutinitas
Seperti ayah berangkat shubuh
Pulang malam...
Pentingkah???
Hahahaha...
Tawa bidadari disusul kepak sayapnya
Yang bosan...
Adakah arti manusia bagi kami???
Atau kehidupan???
Dasar...
Bocah kemarin sore...
Dengan pemikiran lepasnya
Malam ini kami kian gila
Terlepas dari kesal
Terlepas dari sesal
Entah esok masih ada...
arti pemuda di kerumunan
Kami muda belia
Mungkin memilih mati muda
Enggan dimanja
Dilayani layaknya raja
Kami mungkin mati belia
Dengan semangat baja
Jangan kau tanya kenapa?
Ditangisi tanpa air mata
Dari satu titik di secarik kertas
Kami tinggikan layaknya bintang
Ialah penentu nasib perut kami
Besok? Lusa? Mungkin menahun...
Apalah artinya peluh ayah kami
Apalah artinya serak ibu kami
Bagi kami rasa iba
Menuntut kami ke jalan
Menuntut kami beriak
Kami tak takut lagi mati
Satu-dua nyawa itu biasa di lapangan
Jangan salahkan kami berlaku liar
Jika melihat perilaku mereka binal
Di balik layar...
Di balik layar...
Ya! Meski dibalik layar...
Karena kami bukan anak raja
Mungkin memilih mati muda
Enggan dimanja
Dilayani layaknya raja
Kami mungkin mati belia
Dengan semangat baja
Jangan kau tanya kenapa?
Ditangisi tanpa air mata
Dari satu titik di secarik kertas
Kami tinggikan layaknya bintang
Ialah penentu nasib perut kami
Besok? Lusa? Mungkin menahun...
Apalah artinya peluh ayah kami
Apalah artinya serak ibu kami
Bagi kami rasa iba
Menuntut kami ke jalan
Menuntut kami beriak
Kami tak takut lagi mati
Satu-dua nyawa itu biasa di lapangan
Jangan salahkan kami berlaku liar
Jika melihat perilaku mereka binal
Di balik layar...
Di balik layar...
Ya! Meski dibalik layar...
Karena kami bukan anak raja
untuk siapa decak kagum
Lelaki tua dengan kereta sampah
Yang selepas shubuh ditariknya
Untuk kesenangan? Kau gila!
Jangan tanya macam-macam
Hari ini ia lelah
Hari ini telah cukup
Tak percaya? Lihat isi keretanya!
Tak perduli kau siapa
Jangan pandang rendah ia
Seorang lelaki tua
Dengan langkah yang masih berlanjut
Dan nafas yang penuhi dadanya
Hingga bayangannya memanjang
Karena kita tidak tahu selepas itu hitam menghilang
Yang selepas shubuh ditariknya
Untuk kesenangan? Kau gila!
Jangan tanya macam-macam
Hari ini ia lelah
Hari ini telah cukup
Tak percaya? Lihat isi keretanya!
Tak perduli kau siapa
Jangan pandang rendah ia
Seorang lelaki tua
Dengan langkah yang masih berlanjut
Dan nafas yang penuhi dadanya
Hingga bayangannya memanjang
Karena kita tidak tahu selepas itu hitam menghilang
celaka
Celaka...
Bara tak mau padam
Seperti kapal enggan karam
Kau tahu aku diam
Dibuat kau mati berbusa
Kau sadar aku beku
Leleh saja oleh tatapmu
Bara tak mau padam
Seperti kapal enggan karam
Kau tahu aku diam
Dibuat kau mati berbusa
Kau sadar aku beku
Leleh saja oleh tatapmu
makan uang rakyat = makan sampah
Kalian makan sampah
Tak percaya?
Deru dan pasir saksinya
Kalian makan sampah
Ada darah...
Mencoba mengalir
Tak tentu arahnya
Kadang lewat jantung
Kadang terhenti
Tercekik kalian
Kalian yang makan sampah
Bukan kami tak berdosa
atau bersembunyi dibalik metafora
Tapi kami tidak makan sampah
Kelu lidah menyimak di jalan
Menelan ludah...
Iba...
Karena kalian
Mereka makan sampah
Atau dari sampah
Entah kapan akan terhenti
Laknat kami
Teriakan kami
Untuk kalian
Kalian yang makan sampah
Mencoba berlindung
Berkubang di timbunan uang
Mencoba bertahan
Dengan tameng kiasan
Tak percaya?
Deru dan pasir saksinya
Kalian makan sampah
Ada darah...
Mencoba mengalir
Tak tentu arahnya
Kadang lewat jantung
Kadang terhenti
Tercekik kalian
Kalian yang makan sampah
Bukan kami tak berdosa
atau bersembunyi dibalik metafora
Tapi kami tidak makan sampah
Kelu lidah menyimak di jalan
Menelan ludah...
Iba...
Karena kalian
Mereka makan sampah
Atau dari sampah
Entah kapan akan terhenti
Laknat kami
Teriakan kami
Untuk kalian
Kalian yang makan sampah
Mencoba berlindung
Berkubang di timbunan uang
Mencoba bertahan
Dengan tameng kiasan
reponse
Pernah kau rasakan arak?
Yang kubilang hangat...
Yang kau bilang haram...
Pernah kau meresap derita?
Bukan sekonyong-konyong membanci-banci kau berpuisi
Mungkin kumaklumi ingin puaskan hati
Dan detak jam seolah bertanya padaku
"Masih berharap kau dengan keapatisanmu?"
Ditutup sangkalanku
"aku hanya ingin jadi egois"
Yang kubilang hangat...
Yang kau bilang haram...
Pernah kau meresap derita?
Bukan sekonyong-konyong membanci-banci kau berpuisi
Mungkin kumaklumi ingin puaskan hati
Dan detak jam seolah bertanya padaku
"Masih berharap kau dengan keapatisanmu?"
Ditutup sangkalanku
"aku hanya ingin jadi egois"
lelah
Malam gelap begini
Tak terang apa maksudnya
Duri kian memberi
Satu hati rasa perih
Tampung semua tak terkecuali
Di sini yang ada gelap
Dan bias lilin yang meredup
Satu lagi...
Bayangan wajahmu
Kenapa?
Kenapa saya sendiri
Yang harus menyesali
Tegar saja.....
Dan pastikan esok semua berakhir
Karena di sini yang tersisa hanya gelap...
Tak terang apa maksudnya
Duri kian memberi
Satu hati rasa perih
Tampung semua tak terkecuali
Di sini yang ada gelap
Dan bias lilin yang meredup
Satu lagi...
Bayangan wajahmu
Kenapa?
Kenapa saya sendiri
Yang harus menyesali
Tegar saja.....
Dan pastikan esok semua berakhir
Karena di sini yang tersisa hanya gelap...
Untold...
I'm still alone to walk in theese streets... Alone... Alone... Alone... And icy...
There's no matter
When i die...
When i fall on this dark shadow
The moonlight that've been seen
Give me one last breath...
And the last view in my mind
Is you...
Just you... And our memories
Trying to keep this situation
At last...
I'm still alone to fill my life
Without story anymore
Without some guilty words
Twilight tries not to hold me
Lets me in the dark of night
There's nothing left
Only me and my shadow...
How could it be to me...
I'll always fall
Never arise even just to kiss you
There's no matter
When i die...
When i fall on this dark shadow
The moonlight that've been seen
Give me one last breath...
And the last view in my mind
Is you...
Just you... And our memories
Trying to keep this situation
At last...
I'm still alone to fill my life
Without story anymore
Without some guilty words
Twilight tries not to hold me
Lets me in the dark of night
There's nothing left
Only me and my shadow...
How could it be to me...
I'll always fall
Never arise even just to kiss you
harapan dan doa
Harapan.....
Tentang harapan
Yang masih ku pertanyakan
Kepada Tuhan...
Dan doa.....
Yang kami haturkan
Dengan iringan sembah kami
Kami saling kutuk-mengutuki
Lalu bara jadi api
Tentang harapan
Yang masih ku pertanyakan
Kepada Tuhan...
Dan doa.....
Yang kami haturkan
Dengan iringan sembah kami
Kami saling kutuk-mengutuki
Lalu bara jadi api
atlantis
Bumbung tinggi asap
Jauh-menjauhi...
Bumbung lampaui semua
Di atlantis...
Langit masih biru
Dan darah masih merah
Bersimbah...
Tak peduli milikku... Milikmu
Gaia mulai menangis
Deru nafas kronos
Kita berperang...
Kita berperang untuk apa
Di atlantis
Tubuh ini liar
Akal juga
Hingga tamak terlarut
Dengki juga
Ini tanah siapa
Bagai firdaus di bumi
Zamrud di mahkota
Atlantis... Oh... Atlantis
Yang tenggelam dalam serakah
Jauh-menjauhi...
Bumbung lampaui semua
Di atlantis...
Langit masih biru
Dan darah masih merah
Bersimbah...
Tak peduli milikku... Milikmu
Gaia mulai menangis
Deru nafas kronos
Kita berperang...
Kita berperang untuk apa
Di atlantis
Tubuh ini liar
Akal juga
Hingga tamak terlarut
Dengki juga
Ini tanah siapa
Bagai firdaus di bumi
Zamrud di mahkota
Atlantis... Oh... Atlantis
Yang tenggelam dalam serakah
Langganan:
Komentar (Atom)