Minggu, 17 Januari 2010

sepenggalan hari yang lalu

ada deru dalam angin
ada kisah terhapus
seperti jejak di pasir

ada luka terobati
ada sendu yang terlupakan
seperti daun yang begitu saja terjatuh

seperti kisah romeo
tetapi berlalu begitu saja...
terlalu rapuh

aku di matamu
hanya kumpulan sajak berjalan
tiada harga tanpa tinta

ada suka yang kita lupakan
dengan jenuh yang kita jejalkan
tanpa sisa...

Cerberus

aku hidup dengan cerberus
dengan tiga mulutnya
yang ingin kumaki biar diam

dan ingin kutikam
agar tidak ada nafas yang jadi dendam

aku hidup dengan cerberus
penjaga dan teman di neraka
datang menjemput...
untuk siapa?

hitam legam dan liur yang menyeruak
matanya...
matanya bagai api menyala di jantung para pezina
sepanas nafas pemabuk di jalanan
segelap aku...

aku berkawan dengan cerberus
dalam kelam
yang menarikku di nadi
memutuskan aorta aliri otak

ambisi

ada tanjung dalam harapan
hingga es di daerah nordik
ada zamrud dalam belantara
beserta palung yang lebih dalam

ada darah yang mesti ditumpahkan
ada nyawa yang harus dikorbankan
ada wanita yang harus ditinggalkan
dan ada kegelapan yang harus dilenyapkan

liar...
kau hinggapi
mencumbu hingga binal otak kami

ada tombak yang mesti dilempar
ada pedang yang perlu dikibaskan

eurasia hingga oceania
dari tundra sampai hutan tropis...

dan masih menunggu raja
untuk kejayaan yang dipersembahkan

Pantai Kuta

tepian asa
kegembiraan...
diatara petikan dawai dan alunan harmonika
di pantai dalam realita setengah imajinasi

tercakar pasir-pasir
dimaki-maki gelombang
untuk berhenti

lunglai tubuh dengan topi miring
berjalan susuri garis-garis pantai
terucap komat-kamit dalam mulut penuh alkohol

dimana kita tanpa akal?

hanyutkah?

berlarut-larut dalam kekecewaan
surga di kakipun tak terasa
lalu angin datang menampar untuk sadar..

Mari kita dengarkan angin

Kau tahu?
Angin itu berbisik
Bukan mendengkur

Ataukah kita mulai tuli
Tak lagi bisa merasa

Kau tahu?
Ini bukan saatnya bercumbu...

Kintamani-Denpasar

kuyup...
yang tersisa basah dan menggigil
kau bilang air
aku bilang batu

menghunus nadi...

jalan masih panjang
tetapi keluhku sudah lebih

takut mati?
tidak...

aku lebih baik disini...
bukan sepertimu
di atas ranjang...

kau tahu?
air dan angin jadi musuhku
yang ceria karena kawanku jadi berkubang
haha...

seperti babi gemuk
seperti anjing-anjing yang kau rawat...
muntahkan saja kalau berani

kintamani...
tinggi menjulang dicampur debu dicampur kabut
denpasar...
kami rindu laut

anggap saja ini makian
terakhir di tahun ini...

Penari-penari tuli di Bali

Aku ingin hidup dalam kemusykilan
Terjauh dari arogansi
Bebas terjatuh
Lalu melompat bila kumau

Layaknya lenggak-lenggok penari
Yang meski kalian maki
Tiada rasa perduli
Mungkin tuli...

Sekali saja aku bisa hirup aroma ini
Aroma candu budaya bumi pertiwi

Dalam alunan musik sederhana
Di atas surga pentas dunia
Berpanggungkan batu

Sekali lagi aku ingin hidup
Dalam kemusykilan
Bukan terpenjara...
Dibodohi adat turun temurun

Sore-sore

Lagi tangan kiriku bergetar...
Menampar untuk sadar...
Sementara yang kanan menulis
Karangan untuk para iblis

Yang tersisa asap-asap menggelepar
Puntung-puntung terkapar
Bersama-sama impian yang tak lagi tergambar

Sore ini tidak lagi arogan...
Seperti biasanya
Yang ada hanya kelembutan sinar terpancar
Ajak aku untuk menohok...

Teriakku! "dunia ini terlalu luas, bung! Sayang kalau kau mati disini!"

Masih ada yang lebih sempit dari pikiranmu
Jauh lebih luas dari dadamu
Lebih hijau dari daun dan matamu
Lebih gelap dari hati
Milik kita...

"hahh! Hati milik kalian???" tanya dinding yang ragu

Tambah saja bergetar...
Tangan ini...
Yang kita punya tapi terpasung

korelasi dari kemarin hingga pagi ini yang menguning

bercampur dalam kelam
air kini yang mulai mengental
kotor...

kau angkatku dalam penatku
bersih...
suci...
kau kembalikan jiwaku
seperti kau hidupkan kembali organ-organmu
dalam tarikan nafasmu...

kini lagi kutenggelam
dalam ke-bohemian-anku
berlarut-larut...
tak terhenti...
menjamah ke-introvert-an

di sore buta lagi kudatang
tanpa bunga mawar...
tanpa apa yang kau damba...

sederhana saja kudatang...
dan kita pun duduk bersahaja
berteduh pada Syzygium samarangense depan rumahmu

dan teori-teori para spekulan pun terjatuh
runtuh...
buyar...
punah...

yang tersisa...
ku terbangun di pagi yang kuning
dan ku sadar...
kusudah kembali dalam kubanganku
jadi binal...
ya!
bertambah binal...

Inciendie!!! brasier!

tinggal asap... tinggal bara...
semua hangus sisa arang
rumahku jadi merah
sama atau lebih dari darah

"untuk siapa?"

kau datang...
sisakan sejuta aroma kebusukan
bawa kami titik terang
untuk memberontak

exodus...
mungkin itu tujuan
atau cuma pengalihan

Kejujuran dalam alunan sebotol vodka

Tuhan...
Dalam sedih kumengadu
Dalam sendu kumenggerutu

Tiada sabar...

Tuhan...
Dengarkan aku yang berujar
Maafkan aku yang kurang ajar

Dalam rindu kumenyembahmu
Dalam khilaf kumelupakanmu

Kadang dipelupukmu kumenghinamu

Dalam jubah congkakku
Kuberujar...
"amboi! Andai badan ini mati saja"

Tuhan...
Tiada khusyuk kusembah dirimu
Kubersemangat menghujatmu
Tiada daya... Aku lemah...
Badanku...
Jiwaku...
Akalku..

Dalam pelukmu kukembali mengadu
Aku hina...
Binal...
Jalang...
Mungkin aku binatang

Tuhan...
Dalam alunan sebotol vodka
Kumalu... Aku masih hambamu

Mon Histoire Invraisemblable

Decak bukan tanpa arti
Kami bukan manusia dikagumi
Atau terlalu disayang

Lunglai kami berjalan
Tergantung jas berbau wine
Di lorong sepi
Tempat nafsu binal memuncak

Lalu kami nyanyikan lagu derita
Hingga terlelap dimakan lelah

Malam ini kian sepi
Hanya ada duri
Hanya ada tawa bidadari
Dan kumpulan mimpi manusia gila
Selebihnya? Binal!!!

Kami bukan manusia yang gemar
Dengan segala rutinitas
Seperti ayah berangkat shubuh
Pulang malam...
Pentingkah???

Hahahaha...
Tawa bidadari disusul kepak sayapnya
Yang bosan...

Adakah arti manusia bagi kami???
Atau kehidupan???

Dasar...
Bocah kemarin sore...
Dengan pemikiran lepasnya

Malam ini kami kian gila
Terlepas dari kesal
Terlepas dari sesal

Entah esok masih ada...

arti pemuda di kerumunan

Kami muda belia
Mungkin memilih mati muda
Enggan dimanja
Dilayani layaknya raja

Kami mungkin mati belia
Dengan semangat baja
Jangan kau tanya kenapa?
Ditangisi tanpa air mata

Dari satu titik di secarik kertas
Kami tinggikan layaknya bintang
Ialah penentu nasib perut kami
Besok? Lusa? Mungkin menahun...
Apalah artinya peluh ayah kami
Apalah artinya serak ibu kami

Bagi kami rasa iba
Menuntut kami ke jalan
Menuntut kami beriak

Kami tak takut lagi mati
Satu-dua nyawa itu biasa di lapangan
Jangan salahkan kami berlaku liar
Jika melihat perilaku mereka binal

Di balik layar...
Di balik layar...
Ya! Meski dibalik layar...

Karena kami bukan anak raja

untuk siapa decak kagum

Lelaki tua dengan kereta sampah
Yang selepas shubuh ditariknya
Untuk kesenangan? Kau gila!
Jangan tanya macam-macam
Hari ini ia lelah
Hari ini telah cukup
Tak percaya? Lihat isi keretanya!

Tak perduli kau siapa
Jangan pandang rendah ia

Seorang lelaki tua
Dengan langkah yang masih berlanjut
Dan nafas yang penuhi dadanya
Hingga bayangannya memanjang
Karena kita tidak tahu selepas itu hitam menghilang

celaka

Celaka...
Bara tak mau padam
Seperti kapal enggan karam

Kau tahu aku diam
Dibuat kau mati berbusa
Kau sadar aku beku
Leleh saja oleh tatapmu

makan uang rakyat = makan sampah

Kalian makan sampah
Tak percaya?
Deru dan pasir saksinya
Kalian makan sampah

Ada darah...
Mencoba mengalir
Tak tentu arahnya
Kadang lewat jantung
Kadang terhenti
Tercekik kalian
Kalian yang makan sampah

Bukan kami tak berdosa
atau bersembunyi dibalik metafora
Tapi kami tidak makan sampah

Kelu lidah menyimak di jalan
Menelan ludah...
Iba...
Karena kalian
Mereka makan sampah
Atau dari sampah

Entah kapan akan terhenti
Laknat kami
Teriakan kami

Untuk kalian
Kalian yang makan sampah

Mencoba berlindung
Berkubang di timbunan uang
Mencoba bertahan
Dengan tameng kiasan

reponse

Pernah kau rasakan arak?
Yang kubilang hangat...
Yang kau bilang haram...

Pernah kau meresap derita?
Bukan sekonyong-konyong membanci-banci kau berpuisi
Mungkin kumaklumi ingin puaskan hati

Dan detak jam seolah bertanya padaku
"Masih berharap kau dengan keapatisanmu?"

Ditutup sangkalanku
"aku hanya ingin jadi egois"

lelah

Malam gelap begini
Tak terang apa maksudnya

Duri kian memberi
Satu hati rasa perih
Tampung semua tak terkecuali

Di sini yang ada gelap
Dan bias lilin yang meredup
Satu lagi...
Bayangan wajahmu

Kenapa?
Kenapa saya sendiri
Yang harus menyesali

Tegar saja.....
Dan pastikan esok semua berakhir

Karena di sini yang tersisa hanya gelap...

Untold...

I'm still alone to walk in theese streets... Alone... Alone... Alone... And icy...

There's no matter
When i die...
When i fall on this dark shadow
The moonlight that've been seen
Give me one last breath...

And the last view in my mind
Is you...
Just you... And our memories
Trying to keep this situation

At last...
I'm still alone to fill my life
Without story anymore
Without some guilty words

Twilight tries not to hold me
Lets me in the dark of night
There's nothing left
Only me and my shadow...

How could it be to me...
I'll always fall
Never arise even just to kiss you

harapan dan doa

Harapan.....
Tentang harapan
Yang masih ku pertanyakan
Kepada Tuhan...

Dan doa.....
Yang kami haturkan
Dengan iringan sembah kami

Kami saling kutuk-mengutuki
Lalu bara jadi api

atlantis

Bumbung tinggi asap
Jauh-menjauhi...
Bumbung lampaui semua

Di atlantis...
Langit masih biru
Dan darah masih merah
Bersimbah...
Tak peduli milikku... Milikmu

Gaia mulai menangis
Deru nafas kronos
Kita berperang...
Kita berperang untuk apa

Di atlantis
Tubuh ini liar
Akal juga
Hingga tamak terlarut
Dengki juga

Ini tanah siapa
Bagai firdaus di bumi
Zamrud di mahkota

Atlantis... Oh... Atlantis
Yang tenggelam dalam serakah