Sabtu, 28 Maret 2009

si pejalan kaki


Kehilangan...
Ketika nafas sebagian pergi
Dimangsa cahaya bulan dinginnya malam
Harapan tiada lagi

Asa duka masih tersisa
Bangkit bangun tertawa sepi
Jatuhkan butir-butir darah

Temaram lampu hiasi jalan
Pejalan kaki dengan segala keputus-asaannya
Sampai saat dunia bersinar membakar harapan

Tak pedulikan materi
Tak lagi
Tak akan pernah

Buasnya kegagalan menghantui jalan

biar kau hadir

samudra penuh tiram tenggelam
cahaya coba tembus sisi gelapnya
terbangkan pesut-pesut ikuti nalurinya
ketika anak manusia tak percaya apa yang dirasanya
dan tak terasa ribuan kali buih ombak menggerus pantai
tarik kembali lalu dihempaskannya lagi

karang menumbuhi kehidupan
dunia makin tak jelas
kadang beri warna
kadang beri suram
tawa gelak yang nantinya tenggelamkan kita
kesedihan yang menanggalkan ego

lupa aku tak mau berlupa
ingin rasanya teringat diingat
dibuai terbangun
luluhkan setiap air mata
bidadari-bidadari dari surga

genggam jemariku
coba untuk sengatkan ribuan volt
seperi ubur-ubur
bunuh setiap mereka yang hadir dalam hidupku
sisakan dirimu

Yang Terlupa

bayanganku
tentang mereka yang telah pergi
yang tak kembali tertinggal masa
terkubur terpendam besama ingatanku

hadirkan mereka di taman surga
wewangian menyengat basahi kalbu
bayanganku ada tetapi pudar
pudar kelam seiring waktuku

janggutku pun tiada henti
berhitamkan pigmen gelap anak manusia
aku dewasa mereka pun terlupa

Indiference

dingin tertanam
ketika masa kecil berlalu
beranjak dewasa masih tersisa
dan membeku
berkerak di dasar hati
menutupi kebenaran
hingga aku tersesat

mendasari wajahmu yang kelabu
aku jauhi kian tampak
tetapi kini tersamar kembali
aku tak bisa kembali
berpasrahkan kepada takdir

dingin beranjak dewasa
mungkin ingin mati muda

Kamis, 26 Maret 2009

Palestina!! fight for The God


Dahaga terik kebebasan

Dimana dunia dimanakah surga

Duka luruhkan hati

Derap debu mengulur waktu

Doakan kami wahai rabbi


Pacuan kuda terdengar tiada lagi

Zaman kini kami lawan besi

Meski peluru tak ada lagi

Lempari batu harap usir mereka pergi


Kaum liberal, komunis sama saja

Terlebih zionis yang bawa duka

Ini hak kami bukannya tiada

Dimanakah sekutu Tuhan jika Ia bertanya


Mana hamba Tuhan kami

Yang berkata siap mati

Padahal tak punya nyali

Mulut mereka membawa duri


Palestina dimana kami berjaya

Harap yang dulunya adzan menggema

Bukannya peluru atau senjata

Bukan ambisi tentang harta dan tahta


Peruntukan pemimpin kami

Adakah bisa tertidur terlelap dibawa mimpi

Sementara bapak kami mati

Akan neraka tiada ngeri


Buai mimpi di tanah Palestina

Tanah yang dijanjikan-Nya

Tiada rasa kami berputus asa

Meski kemenagan belum didepan mata


Tabur bunga untuk syuhada

Ludah untuk para ulama

Yang tahu keadaan kami

Enggan menjenguk pelipur hati


Apalagi mati untuk agamanya sendiri

Minggu, 22 Maret 2009

hilang part 2

Kehilangan...
Ketika nafas sebagian pergi
Dimangsa cahaya bulan dinginnya malam
Harapan tiada lagi

Asa duka masih tersisa
Bangkit bangun tertawa sepi
Jatuhkan butir-butir darah

Temaram lampu hiasi jalan
Pejalan kaki dengan segala keputus-asaannya
Sampai saat dunia bersinar membakar harapan

Tak pedulikan materi
Tak lagi
Tak akan pernah

Buasnya kegagalan menghantui jalan

Jumat, 20 Maret 2009

Hilang

tertawa dalam isak kesedihan
hilangkan dan lupakanmu
atas ketiada puasan hati
atau tak pahamkah
atau tiada rasa peka

hanya tenggelam berlarut
dalam kesia-siaan
tiadakah kepantasan
atau hasil yang tiada tertimbang
sudikah rembulan keluar dari gelap
tak lagi tenggelam berduka
akankah mentari dapat berbagi
kesetiaan untuk menyinari jalan penuh duri

desakan nurani tuk sayang
tiada berlupa tiada ber-asa
hidup-menghidupi satu nafas darimu

satu dua langkah coba tapaki lagi kehidupan
semoga kita nanti betemu lagi dengan nafas baru
ketika ego bukan lagi isapan
ketika dunia sudah terbiasa menjewer telinga kita

mari kita telusuri apa maunya Tuhan
lihat dan biarkan takdir menulis apa

Minggu, 08 Maret 2009

patah hati ketika beranjak dewasa

Aku belum puas
Dan memang tak akan
Manusia tak akan pernah puas

Mungkin memang...
Memang belum waktunya cinta bersemi
Memang kami terlampau muda
Masihlah terlalu panjang jalan kami
Masih banyak alur-alur yang harusnya kami tempuh

Terlalu...
Tentang dirimu terlalu egois bagiku
Sedang kaca kupecahkan pintakan dirimu
Kutinggalkan bayangku tuntutkan dirimu

Mungkin bengalnya manusia bunuh temannya rebutkan cintanya
Betapa hinanya
Betapa ruginya
Betapa teledornya


Cinta ataukah nafsu
Sebarkan bibit amarah
Taburkan peperangan
Hilangkan satu untuk satu
Betapa...
Betapa...
Betapa...


Perihal cinta
Adakah kedamaian
Ataukah hanya kekhawatiran
Kecemasan...
Yang menjamur
Bagai cendawan di musim hujan

Tentang patah hati
Adakah bagusnya
Hanyakah kekecewaan
Hanyakah kecengengan
Atau malah kenaifan

Beranjak dewasa
Kematangan...
Semoga itu ada padaku
Kejujuran...
Semoga tidak berkurang daripadaku
Kenaifan...
Tolong bantu kikis dia dari hatiku

Kenangan...
Bantu aku lupakan
Nantinya ia halangi aku jalan
Masa depan...
Ketika aku dianggap manusia
Ketika kau dibilang wanita
Aku akan datang
Meski harus terbuang