Jumat, 29 Oktober 2010

Frame

Jas hitam...

      Champagne...

               Musik pesta...

Jas hitam...

      Champagne...

               Musik pesta...

Jas hitam...

      Champagne...

               Musik pesta...



rambut rapih terjambak...

sesal...

kesal...

anak tangga putih...



Cheers!

Musik!

Hingar-bingar!

galau

Gema. Dan kabut yang bercampur dalamnya;
suara hening gelak tawa dalam labirin
hutan dan drama berpacu
semua genting tersisa keringat dan kecemasan

Api memerah di bukit
datang si kancil
aduh! tersungkur

teriakku memecah, Tuhan! Aku ingin menyepi tak perduli meski Kau mati;

jalan berkelok-kelok tambah batu
tambah segenang sungai ada kabut.
mungkin kau masih bisa bersembunyi disana: tapi tidak!!!

hahahaha

ayo kita mati
tapi sebelumnya kita bersenang
hidup bebas meski dibilang pecundang
ayo kita berlari
berlari

ayo kita bebas
terjang semua
hadang semua
kita hunus semua belati
jangan takut mati
kita hidup sekali
lalu sekali lagi

ayo kita terbang
yang di bawah?
jangan dihirau

ayo kita melayang
berpesta-pora
karena kita adalah binatang
lalu mereka bilang kita sinting;
acuhkan saja kawan!

sekali lagi berlari kawan
mari kita berlari
berputar-putar lalu menari

setelah itu?
mari kita mati
bunuh diri
atau biarkan sesak sendiri

titah raja beranak tiga

musim dingin datang titah raja beranak tiga
bakar hutan atas bukit hingga pelupuk
laju hijau jadi merah menyala
dimana tuan kuasa segala sukma

atas bukit terpa angin
datang kakek beruban putih tanpa suara
bawa titah raja
lalu bakar semua

tuan datang belati menghunus
bela negeri atas bukit
tentang titah raja beranak tiga

satu mati tiga anak raja ilang sukma
lari maju
lari jauh

datang angin dingin berkabut cahaya
datang api utara
api selatan
atas bukit hilang sunyi
api lalap sana
hangus

musim dingin datang titah raja beranak tiga
lalu hijau jadi merah menyala

Ibu

dalam kesederhanaannya kuhirup kasih sayang
dan lagi kubuatkan nisan sederhana untuknya

hidup mungkin dulunya adalah pilihan untuknya
tetapi kini pergi adalah harga mati untuknya
tetap hidup
atau mati

dalam pelukannya kita belajar
arti satu dua pengorbanan
yang nantinya tak berjumlah

hidupku pun sempat punah
dalam ombang-ambing binasa
jadi binal tanpa kekang
tapi arti hadir memorinya melumat semua

dan tangis kini tiada arti
kehilanganmu
yasudahlah
hanya doa
hanya doa
sepertinya hanya itu yang kutahu

"ibu kau campur adukkan kami
dalam problematika
kami terlahir
dan akan selalu kami syukuri itu

ibu! aku ingin bertaubat
lalu segera...
sesegera mungkin menyusulmu

ibu! kali ini kami menangis
hanya kau dan Gusti Pangeranlah yang tahu
ini tangis buaya atau bukan

ibu! kami tidak mengerti arti bunuh diri
yang kami tahu ingin segera ada disisimu"

ini puisi dari aku, satu dari empat anakmu, pendesain kuburanmu..

atheist

hari ini masih kami terdampar
dalam kehausan akal
dimaki-maki kata "atheis"

menghujam lagi rasa-rasa
dimana kami terasa hampa
dalam gelap...
dalam sunyi...
dalam tertawaan sinis pemuja setan

kami muak yang seperti ini
pindah frase?
mungkin lebih bak...
sepertinya jingkrak-jingkrakan dimalam hari lebih menyenangkan, ya kan?
kami beriman rasa atheis

bogor-sukabumi-pelabuhan ratu *javatrip

dalam kereta penuh warna dalam keremangan
penuh aroma ketika bersesakan
dan akhirnya kita pun bebas berlari

sebelumnya matahari pun tak bisa mengekang
jadi pengecut dibalik awan
yang tampak hanya bolatan putih kecil
yang manis dan kemayu
dingin?
jangan tanya

ini hanya debat-debat kecil
masalah analisis yang bisa diabaikan
malah kita menang
hingga ke ujung pun kita sampai
batas horison di pelabuhan ratu

hijau...
semua hijau berkelebat
berselimut kabut tanpa malu
apalagi tersipu
semuanya kosong
yang tersisa?
dingin

dimalam kami berpesta
bergumul ditengah pentas kehidupan manusia
meski asing
kami ada

kembali lagi dikereta
turun di gambir
yang terasa?
aduhai panas nian

jawaban seorang yang berlari

banyak orang yang merasa tersesat
hanya berdiam diri
mereka bilang sabar
padahal berusaha pun enggan
dan berkata "jalani saja semua ini apa adanya"

pikir mereka itu takdir
harus dihadapi dengan sabar
bergerak pun tidak

saya pikir
untuk apa berlama tenggelam dalam masalah
menetap di satu titik kejenuhan

karena
bumi ini luas
ayo kita bergerak
ilmu itu banyak
mari kita pecahkan semua kegaduhan ini

"saya tidak berlari dari takdir saya, tetapi saya berlari menuju takdir saya yang lain"

p.u.i.s.i

kau dalam sinar matamu
biaskan malam tanpa penghuni
bayanganku pun enggan

ini angin coba menemani
kutolak...
aku ingin
hanya dirimu...
kehadiranmu meski maya

aku punya daya
bahkan lebih dari seribu langkah
menuju tempatmu
mengunci dalam-dalam perasaan ini
dalam hatimu

kau pikir ini jauh?
aku bilang tidak
untuk kau

untuk semua layangan yang akan kuterbangkan
biar melintas sekonyong-konyong dalam benakmu

tanpa api
kita hidup
meski dingin
tapi yang kutahu
itu semua demi dirimu

kita akan ke laut
ke puncak
tapi apa arti?
jika tanpa hati

aku hanya ingin menyebutkan cinta
tanpa kata cinta
agar tiada luka
agar tiada duka
kelak...

rasa sayang
bukan hasrat
biar nanti kita bisa terbang
tanpa berlabuh
atau terjatuh

jika kau ingin kita jadi tabu
bungkam saja
aku mengerti
lalu kita jadi debu

kau masih dalam sinar matamu
jadi aku atau dirimu atau kita
yang akan beremayam
hanya kau tahu
dan aku tahu
dimalam ini

nanti, mungkin, kelak

kepada wanita-wanitaku
mari kita ganti topik perbincangan
karena kusudah muak dengan percintaan
alamku masih biru terbanyur hujan semalam
yang tadinya kalian pikir gelap

hirau?
tak usahlah dihiraukan lagi
aku pergi
kalian pun pergi
dan kitapun seperti ilalang

impas?
mungkin tidak...
tapi kita sudah tidak punya waktu
untuk membalas dendam
bara... bara... bara...

dan...
buang saja sloganmu
karena dulunya aku seorang penjilat
yang kau benci
yang kau cinta

kepada wanita-wanitaku
disini inginku
disini jalanku
aku mau hidup
mungkin tak seperti chairil
ingin seribu tahun

jangan kau cerita aku punya ego
karena aku masih ingin yang lain
nanti...
mungkin...
kelak...

senja ini

senja ini masih bersisa
sengaja kusisakan untuk menghela
apa yang selama ini kita irikan

aku masih dengki?
ya!

nafas ini masih basah
antara uap dan asap
apa-apa yang selama ini kita hisap

badan belum penuh dengan peluh
kita sudah mengeluh
karena dengki hanya bisa bersarang
dan terus membara

seribu duka untuk palestina

seribu duka untuk palestina
dari darah yang memijar
dari desingan peluru tanpa sesal

seribu tawa anak memudar
kasih ibu jadi tak wajar
melihat suaminya dihajar
oleh...
seribu mortir tanpa gusar

lirik mungkin cuma sampah
tak seperti teriakan bung tomo
yang katanya membakar
semoga dengan ini kita sadar

kita kaya
tuhan beri apa yang kita minta
kita cerdas
tetapi dibodohi dari dasar
kita kuat
tetapi pemimpin kita lemah
untuk lebih dari sekedar berujar
kita iba
tapi ditutupi kemunafikan

seribu duka untuk palestna
seribu tanda tanya untuk yang kini kita lakukan

this aint real, is it?

when we woke up, which was heard only in a low voice ... wind and it's ridicule ...
if properly realized, was packed with weeping ear
Our kids are not hungry in the deletion of this night
Our city was quiet, quiet as revolution of our leaders

Puisi Siang-malam

Siang mencari penghidupan
Malam juga masih mencari
Siang malam terus berganti
Tak tahukah tangan-kaki kami melepuh kapalan

Hari berganti
Hidupku tetap begini
Tak berubah
Tak Berarti

Sedang anak-beranak bernyanyi
Bukan minta dihargai
Tapi tuk sekedar dikasihani
Untuk diibai
Terus bernyanyi
Walau apa kata hati kami
Terus bernyanyi

Kami masih hidup
Dan masih mencari penghidupan
Untuk esok beri tawa pada anak kami

Siang kami hidup berkeringat
Malam Kami hidup menggigil
Siang-malam masih terus berlalu
Lewatkan ingatan begitu saja

Lalu berhenti sejenak di persimpangan
Bersama anak-beranak yang bernyanyi
Untuk sekedar mengisi hidup
Bukan untuk dihargai tapi untuk dikasihani

pintaku

elok pintaku terbatas
berbaring dibawah garis batas
antara nyata dan impian

masih adakah tempat untuk buku

berdebu...
terbatas bingkai kayu
usang...
tergeletak tanpa ragu

buku itu hidup
seperti kayu
hidup menghidupi

seperti tiap keringat
para penulis
dalam kening lapar anak bininya

seperti darah
dalam anak bininya
yang dimakan pagi dan petang

buku adalah jendela dunia
yang ditutup oleh
sampul harga termahal
bagi si miskin

bukuku
bukumu
tergeletak layu

bukuku
bukumu
dimadu oleh waktu

perang vietnam

karenamu kami sengsara
anakku cacat

darah yang kau tumpahkan
menjijikan
kau jilati harta kami
sebelum kau rampas

kau berdamai
sebelum tusuk kami
lalu racuni kami

kalian gila dengan semua persepsi yang ada
takut?
kalian takut
kalian gila
kalian cemas

karena kami ada di depan
dilubang sempit
tak bercelah untuk kalian

kami selalu melawan
dan akan selalu

kalian hancurkan negeri kami
hanya karena takut
kalian racuni kami
takut pada penerus kami

kalian pikir berkuasa?
berpesta lalu nikmati?
jangan tidur sebelum kami mati

untuk rakyat vietnam yang diracun senjata kimia
untuk irak yang diporak-porandakan
untuk palestine yang masih terjajah
untuk afghanistan yang dikambinghitamkan
untuk dunia yang cinta damai

kabar duka

kabar kematian dua kali kulihat
meski terlewat...

untuk kawanku yang berduka
untuk dia yang berduka

ingin kubertanya kepada Tuhan
bukan menghujat...
tentang hidup
tentang mati
mana yang lebih penting

ini nyata
ketika dia hanya bisa menangis
dan tak ada alasan untuk berhenti

ini nyata
ketika dia bingung
kepada siapa dia kan bersandar

ini kematian...
ini duka...
tak bisakah kita mengira?
dan tenggelam dalam lukanya

untuk dia yang berduka
ditinggal pergi bundanya
"vidi aprilia"

sebelum gugur

tentang gelap
yang lagi-lagi kau beritakan
dan duka yang berserak
mengerak

karena kita bodoh lalu jadi bangkai
terhalang asap-asap kabut menutupi lalu jadi bangkai lagi

berteriak tentang mawas
menari-nari
dan hidup bersama pelipur
harap sebelumnya gugur

jadikan kami obor
biar bakar semua kelakar
jadikan kami cahaya
biar obrak-abrik gelap sekalian
sebelum gugur
sebelum abu dari bara

perenungan tahun...................

alur belakangan ini
adalah kebodohan yang terpendam
mengental lalu memuncak
melangkahi batas
dari ambang dan lebih lagi

alur belakangan ini
mengabur
menjadi blur
tak tergambar

perenungan cuma jadi omong kosong
bohong...
dan kebohongan ingin membela
menutupi sisi
membuka sisi lainnya

tahun-tahun hanya berganti
dari satu ke depan yang lebih genap
ke ganjil lagi
cuma tawa tanpa bahagia
cuma tangisan tanpa makna

kesadaran hanyalah satu cara
mengangkat yang akan selalu terjatuh
terjatuh...
tak bangkit takut ketinggian

aku ingin buta
biar bersyukur
rasa apa yang mereka rasa
ingin apa yang mereka ingin

mungkin terlalu lama tenggelam
tanpa kesigapan
tanpa kesiapan

kita lengah
terlena
kita lemah
lalu punah

ode pemuda hari ini

ada pekik tangis
lekas bangun, bung!
meski kau bukan pahlawan

ada tertawaan
jangan sindir, bung!
hargai sedikit itu cukup

udara dan eidellweiss bercampur
hujan dan embun hilang
bersama pelangi dan laskarnya
coba nikmati, bung!

bung! ayo bung!
satu langkah
kita halau semua
kita tindas penindas
bung! ayo bung!
dendam nyatanya tidak untuk dibalas
cukup kita rampas yang terampas
meskiku terhempas
meskikau terhempas

kita berakar menjalar
tanpa sulut pun kita bakar
bung! ayo bung!
bebaskan kekang
ayo lari kencang

deru sarkasme seorang liberalis

untuk kami yang terlahir
liar...
dipenuhi kenikmatan...
bebas...

tak mengerti arti kerja keras
tak dan sedikitpun tidak...

belenggu Tuhan akan iman
belenggu umat
dalam setiap tarikan dan hembusan
tak juga kami rasakan

kertas kosong...
gelas kosong...
mau kami umpamakan apa lagi?
untuk kesucian kami...

dibelakang kami dusta mendustai
khianat...
bangsat!

dibelakang kami juga vokal
jatuh menjatuhkan kau yang kami banggakan

dibelakang pula...
semua terjadi...
nista bergulir...

Sabtu, 06 Maret 2010

deru malam ini

keangkuhanmu...
biar ku pijak lagi
beri satu tanda lalu kupergi

jauh...
api menjilatku tiada henti
menandukiku seolah akan mati

untuk yang berbahagia di februari ini

belum
semua ini belum berakhir...
karena detak ini masih ada

kau berlari...

kau berlari...

kau berlari...

dalam gelap
kutersungkur
dalamnya lagi kumenampar

memar...
ahh biasa...

biar luka ini tetap menganga
asal keangkuhanmu...
punah

untuk Gia binti Bachtiar

kakimu terpasung...
aduh...
ngilu...

kau muda
terlalu muda
untuk tergilas
nafas dan roda kehidupan

tahu?
ayahmu bergumam...
malang anakku
malang cintaku

tahu?
ayahmu dihempas debu
bernyanyi seribu lagu
tetapi tersumpal rindu
padamu...

muda...
kau terlalu muda
untuk mengerti
peluh ayahmu

tetapi kau tahu
dan pasti tahu
kelak...

ibukota menyiksamu
di sana kau hidup bebas dalam belukar
tetapi belum...
karena kau masih terpasung

semoga
kelak pun kau berkata
"terima kasih ayah"

bencana alam

udara dan kabut selimuti dirinya
dan menghilang dalam sepi

kau adalah bencana
dan kau tidak peduli
mendengar pun tidak

berhenti...
jangan kau bernafas
tak perlu kau seka airmu
kau adalah bencana

sadarkan kami...
sadarpun kau tidak peduli
berhenti pun tidak

sampai semua selesai
punah kami tujuh turunan
karena kau adalah bencana

bencana alam...
kau adalah air menggenang
kau adalah gempa mengguncang
kau adalah api yang menjilat

kinipun kau tidak peduli
mendengarpun tidak

lakon kehidupan

kita hidup dalam pembubuhan lakon
persemaian jati diri
dari satu jadi seribu

wajah duka
wajah luka
menganga beraroma

busuk nanah dalam hati...

tanpa tawa yang kau buka
kehangatan dalam senyum

tak lagi kita percaya
kesadaran...
kepunahan hasrat toleran

kita hidup bukan lagi di rimbun
ketika terdesak
minta peri dan keajaibannya

tetapi kita adalah pencipta
keajaiban dalam lakon kehidupan
dan itu sudah cukup

lebih dari sekedar kepakan

ketenangan

ketenangan...
yang kudamba
hanya ketika terpejam

ketenangan...
karena kubenci lara
sebelum terseret temaram

kupikir tak akan seorang pun
aku, kamu, atau mereka?
tak akan dapat kecuali sesaat

pelarian kepada whiskey tak terasa
gele...
sesaat untuk binasa

saat terpaku
oleh takdir...
terpasung...
sungguh mengekang

ketenangan...
adakah nanti?
atau esok?
hingga senja datang...

nanti mudaku kuhabiskan dilaut
menjajal alam
atau merimbun bersajak

adakah rusukku yang bawa
atau pada lahadku
akan kutunggu

elegi

senyum kita palsu...
kau lebih-lebih...

air mata kita palsu...
tapi sayang kutak punya
haha

doa kita sama
"kuharap kau menjauh"

ini rasa jadi luka
dan kau yang punya perkara

tak satu yang kusesali
kecuali masa lalu

lalu... dan berlalu...
sekali lagi ini duka punya siapa?

kita diam...
dan itu juga palsu...
tetapi semua hanya masa lalu

nafas pendek

nafas-nafas pendek
tersisa untuk kata-kata
lantang?
sekiranya tidak...

teduh
tak terik cahaya ini
suram?
mungkin tidak...

rasa ini tidak ada
karena dia...
iyakah?
kurasa tidak...

sampai jumpa
jiwa besar berpisah
jiwa kalah menengadah

deru angin
dan asap tinggal penghabisan...

ALZHEIMER

aduhai langit malam
beserta taburannya
murnikanku dalam keharuan
dekatkanku dan lebih dengan Sang Pemberi nafas

sinapsis-sinapsis terputus dalam genggaman-Nya
lajuku berhenti lajumu juga

ingatkah dan masih akankah

Allah.....

yang selamanya kita sembah
dan untuk-Nya seluruh hidup kita dipersembahkan

sekarang atau lebih
kita harus pergi

karena tubuh ini panas dan semakin
bagai bara atau lebih

untuk itu mari angkat gelas
dan nikmati lagi
satu kecupan dari glukosa

masih dahulu

masih kayu....

masih batu....

masih lumpur...

dan hampa yang terkoyak-koyak...

masih kamu...

masih juga jiwaku...

disini...

dipelataran rumah dan rasi biduk orion...

seperti dulu
aku ingin liar
seperti dulu
kau ingin disayang

saat nafas kita sama
bau kejujuran
saat tubuh kita sama
untuk menolak genggaman ini

aku rindu kau yang kurindukan
apa adanya
seperti dahulu...

pulang

hutan tak lagi tanpa bangkai
disini...
didepan air mata para oportunis

kuingin pulang
kuhanya ingin pulang...

menghantarkan nyawa kepada Yang Kuasa
bersembunyi dibalik tabirNya

kuingin pulang...
tanpa lagu tentang duka
tanpa derita yang kau dendangkan
tanpa birama 1/2 ketukan

kuingin pulang
kuhanya ingin pulang...

menyusul ibuku yang tersayang
yang malangnya sudah diterjang

ibu...
aku pulang...

bila kugila

kepada keluargaku
bila kumenggila
jangan dibelenggu
biarkan liar
buang ke hutan
mungkin hidup lekas dimulai

bila kujadi gila
hilang semua
lenyap dimakan bara
yang dulunya berapi-api

tiada ego
dinding bersembunyi
malupun sirna
lenyap semua tanggung jawab

romansa

kau mengental dalam cuaca
tergambar dalam susana
legam tanpa jejak
lalu berlari sana-sini
menampar kanan-kiri

lihat...
jilat api
bakar nista dalam dada

kau semburkan lagi
dan lagi...
kekesalanmu pada putihnya tembok

kau hujamkan lagi
dan lagi...
pena dalam ilusi
romansa penuh luka

dengar...
gemertak beling
pecahan botol
binasa tersisa tanpa kata

Minggu, 17 Januari 2010

sepenggalan hari yang lalu

ada deru dalam angin
ada kisah terhapus
seperti jejak di pasir

ada luka terobati
ada sendu yang terlupakan
seperti daun yang begitu saja terjatuh

seperti kisah romeo
tetapi berlalu begitu saja...
terlalu rapuh

aku di matamu
hanya kumpulan sajak berjalan
tiada harga tanpa tinta

ada suka yang kita lupakan
dengan jenuh yang kita jejalkan
tanpa sisa...

Cerberus

aku hidup dengan cerberus
dengan tiga mulutnya
yang ingin kumaki biar diam

dan ingin kutikam
agar tidak ada nafas yang jadi dendam

aku hidup dengan cerberus
penjaga dan teman di neraka
datang menjemput...
untuk siapa?

hitam legam dan liur yang menyeruak
matanya...
matanya bagai api menyala di jantung para pezina
sepanas nafas pemabuk di jalanan
segelap aku...

aku berkawan dengan cerberus
dalam kelam
yang menarikku di nadi
memutuskan aorta aliri otak

ambisi

ada tanjung dalam harapan
hingga es di daerah nordik
ada zamrud dalam belantara
beserta palung yang lebih dalam

ada darah yang mesti ditumpahkan
ada nyawa yang harus dikorbankan
ada wanita yang harus ditinggalkan
dan ada kegelapan yang harus dilenyapkan

liar...
kau hinggapi
mencumbu hingga binal otak kami

ada tombak yang mesti dilempar
ada pedang yang perlu dikibaskan

eurasia hingga oceania
dari tundra sampai hutan tropis...

dan masih menunggu raja
untuk kejayaan yang dipersembahkan

Pantai Kuta

tepian asa
kegembiraan...
diatara petikan dawai dan alunan harmonika
di pantai dalam realita setengah imajinasi

tercakar pasir-pasir
dimaki-maki gelombang
untuk berhenti

lunglai tubuh dengan topi miring
berjalan susuri garis-garis pantai
terucap komat-kamit dalam mulut penuh alkohol

dimana kita tanpa akal?

hanyutkah?

berlarut-larut dalam kekecewaan
surga di kakipun tak terasa
lalu angin datang menampar untuk sadar..

Mari kita dengarkan angin

Kau tahu?
Angin itu berbisik
Bukan mendengkur

Ataukah kita mulai tuli
Tak lagi bisa merasa

Kau tahu?
Ini bukan saatnya bercumbu...

Kintamani-Denpasar

kuyup...
yang tersisa basah dan menggigil
kau bilang air
aku bilang batu

menghunus nadi...

jalan masih panjang
tetapi keluhku sudah lebih

takut mati?
tidak...

aku lebih baik disini...
bukan sepertimu
di atas ranjang...

kau tahu?
air dan angin jadi musuhku
yang ceria karena kawanku jadi berkubang
haha...

seperti babi gemuk
seperti anjing-anjing yang kau rawat...
muntahkan saja kalau berani

kintamani...
tinggi menjulang dicampur debu dicampur kabut
denpasar...
kami rindu laut

anggap saja ini makian
terakhir di tahun ini...

Penari-penari tuli di Bali

Aku ingin hidup dalam kemusykilan
Terjauh dari arogansi
Bebas terjatuh
Lalu melompat bila kumau

Layaknya lenggak-lenggok penari
Yang meski kalian maki
Tiada rasa perduli
Mungkin tuli...

Sekali saja aku bisa hirup aroma ini
Aroma candu budaya bumi pertiwi

Dalam alunan musik sederhana
Di atas surga pentas dunia
Berpanggungkan batu

Sekali lagi aku ingin hidup
Dalam kemusykilan
Bukan terpenjara...
Dibodohi adat turun temurun

Sore-sore

Lagi tangan kiriku bergetar...
Menampar untuk sadar...
Sementara yang kanan menulis
Karangan untuk para iblis

Yang tersisa asap-asap menggelepar
Puntung-puntung terkapar
Bersama-sama impian yang tak lagi tergambar

Sore ini tidak lagi arogan...
Seperti biasanya
Yang ada hanya kelembutan sinar terpancar
Ajak aku untuk menohok...

Teriakku! "dunia ini terlalu luas, bung! Sayang kalau kau mati disini!"

Masih ada yang lebih sempit dari pikiranmu
Jauh lebih luas dari dadamu
Lebih hijau dari daun dan matamu
Lebih gelap dari hati
Milik kita...

"hahh! Hati milik kalian???" tanya dinding yang ragu

Tambah saja bergetar...
Tangan ini...
Yang kita punya tapi terpasung

korelasi dari kemarin hingga pagi ini yang menguning

bercampur dalam kelam
air kini yang mulai mengental
kotor...

kau angkatku dalam penatku
bersih...
suci...
kau kembalikan jiwaku
seperti kau hidupkan kembali organ-organmu
dalam tarikan nafasmu...

kini lagi kutenggelam
dalam ke-bohemian-anku
berlarut-larut...
tak terhenti...
menjamah ke-introvert-an

di sore buta lagi kudatang
tanpa bunga mawar...
tanpa apa yang kau damba...

sederhana saja kudatang...
dan kita pun duduk bersahaja
berteduh pada Syzygium samarangense depan rumahmu

dan teori-teori para spekulan pun terjatuh
runtuh...
buyar...
punah...

yang tersisa...
ku terbangun di pagi yang kuning
dan ku sadar...
kusudah kembali dalam kubanganku
jadi binal...
ya!
bertambah binal...

Inciendie!!! brasier!

tinggal asap... tinggal bara...
semua hangus sisa arang
rumahku jadi merah
sama atau lebih dari darah

"untuk siapa?"

kau datang...
sisakan sejuta aroma kebusukan
bawa kami titik terang
untuk memberontak

exodus...
mungkin itu tujuan
atau cuma pengalihan

Kejujuran dalam alunan sebotol vodka

Tuhan...
Dalam sedih kumengadu
Dalam sendu kumenggerutu

Tiada sabar...

Tuhan...
Dengarkan aku yang berujar
Maafkan aku yang kurang ajar

Dalam rindu kumenyembahmu
Dalam khilaf kumelupakanmu

Kadang dipelupukmu kumenghinamu

Dalam jubah congkakku
Kuberujar...
"amboi! Andai badan ini mati saja"

Tuhan...
Tiada khusyuk kusembah dirimu
Kubersemangat menghujatmu
Tiada daya... Aku lemah...
Badanku...
Jiwaku...
Akalku..

Dalam pelukmu kukembali mengadu
Aku hina...
Binal...
Jalang...
Mungkin aku binatang

Tuhan...
Dalam alunan sebotol vodka
Kumalu... Aku masih hambamu

Mon Histoire Invraisemblable

Decak bukan tanpa arti
Kami bukan manusia dikagumi
Atau terlalu disayang

Lunglai kami berjalan
Tergantung jas berbau wine
Di lorong sepi
Tempat nafsu binal memuncak

Lalu kami nyanyikan lagu derita
Hingga terlelap dimakan lelah

Malam ini kian sepi
Hanya ada duri
Hanya ada tawa bidadari
Dan kumpulan mimpi manusia gila
Selebihnya? Binal!!!

Kami bukan manusia yang gemar
Dengan segala rutinitas
Seperti ayah berangkat shubuh
Pulang malam...
Pentingkah???

Hahahaha...
Tawa bidadari disusul kepak sayapnya
Yang bosan...

Adakah arti manusia bagi kami???
Atau kehidupan???

Dasar...
Bocah kemarin sore...
Dengan pemikiran lepasnya

Malam ini kami kian gila
Terlepas dari kesal
Terlepas dari sesal

Entah esok masih ada...

arti pemuda di kerumunan

Kami muda belia
Mungkin memilih mati muda
Enggan dimanja
Dilayani layaknya raja

Kami mungkin mati belia
Dengan semangat baja
Jangan kau tanya kenapa?
Ditangisi tanpa air mata

Dari satu titik di secarik kertas
Kami tinggikan layaknya bintang
Ialah penentu nasib perut kami
Besok? Lusa? Mungkin menahun...
Apalah artinya peluh ayah kami
Apalah artinya serak ibu kami

Bagi kami rasa iba
Menuntut kami ke jalan
Menuntut kami beriak

Kami tak takut lagi mati
Satu-dua nyawa itu biasa di lapangan
Jangan salahkan kami berlaku liar
Jika melihat perilaku mereka binal

Di balik layar...
Di balik layar...
Ya! Meski dibalik layar...

Karena kami bukan anak raja

untuk siapa decak kagum

Lelaki tua dengan kereta sampah
Yang selepas shubuh ditariknya
Untuk kesenangan? Kau gila!
Jangan tanya macam-macam
Hari ini ia lelah
Hari ini telah cukup
Tak percaya? Lihat isi keretanya!

Tak perduli kau siapa
Jangan pandang rendah ia

Seorang lelaki tua
Dengan langkah yang masih berlanjut
Dan nafas yang penuhi dadanya
Hingga bayangannya memanjang
Karena kita tidak tahu selepas itu hitam menghilang

celaka

Celaka...
Bara tak mau padam
Seperti kapal enggan karam

Kau tahu aku diam
Dibuat kau mati berbusa
Kau sadar aku beku
Leleh saja oleh tatapmu

makan uang rakyat = makan sampah

Kalian makan sampah
Tak percaya?
Deru dan pasir saksinya
Kalian makan sampah

Ada darah...
Mencoba mengalir
Tak tentu arahnya
Kadang lewat jantung
Kadang terhenti
Tercekik kalian
Kalian yang makan sampah

Bukan kami tak berdosa
atau bersembunyi dibalik metafora
Tapi kami tidak makan sampah

Kelu lidah menyimak di jalan
Menelan ludah...
Iba...
Karena kalian
Mereka makan sampah
Atau dari sampah

Entah kapan akan terhenti
Laknat kami
Teriakan kami

Untuk kalian
Kalian yang makan sampah

Mencoba berlindung
Berkubang di timbunan uang
Mencoba bertahan
Dengan tameng kiasan

reponse

Pernah kau rasakan arak?
Yang kubilang hangat...
Yang kau bilang haram...

Pernah kau meresap derita?
Bukan sekonyong-konyong membanci-banci kau berpuisi
Mungkin kumaklumi ingin puaskan hati

Dan detak jam seolah bertanya padaku
"Masih berharap kau dengan keapatisanmu?"

Ditutup sangkalanku
"aku hanya ingin jadi egois"

lelah

Malam gelap begini
Tak terang apa maksudnya

Duri kian memberi
Satu hati rasa perih
Tampung semua tak terkecuali

Di sini yang ada gelap
Dan bias lilin yang meredup
Satu lagi...
Bayangan wajahmu

Kenapa?
Kenapa saya sendiri
Yang harus menyesali

Tegar saja.....
Dan pastikan esok semua berakhir

Karena di sini yang tersisa hanya gelap...

Untold...

I'm still alone to walk in theese streets... Alone... Alone... Alone... And icy...

There's no matter
When i die...
When i fall on this dark shadow
The moonlight that've been seen
Give me one last breath...

And the last view in my mind
Is you...
Just you... And our memories
Trying to keep this situation

At last...
I'm still alone to fill my life
Without story anymore
Without some guilty words

Twilight tries not to hold me
Lets me in the dark of night
There's nothing left
Only me and my shadow...

How could it be to me...
I'll always fall
Never arise even just to kiss you

harapan dan doa

Harapan.....
Tentang harapan
Yang masih ku pertanyakan
Kepada Tuhan...

Dan doa.....
Yang kami haturkan
Dengan iringan sembah kami

Kami saling kutuk-mengutuki
Lalu bara jadi api

atlantis

Bumbung tinggi asap
Jauh-menjauhi...
Bumbung lampaui semua

Di atlantis...
Langit masih biru
Dan darah masih merah
Bersimbah...
Tak peduli milikku... Milikmu

Gaia mulai menangis
Deru nafas kronos
Kita berperang...
Kita berperang untuk apa

Di atlantis
Tubuh ini liar
Akal juga
Hingga tamak terlarut
Dengki juga

Ini tanah siapa
Bagai firdaus di bumi
Zamrud di mahkota

Atlantis... Oh... Atlantis
Yang tenggelam dalam serakah