keangkuhanmu...
biar ku pijak lagi
beri satu tanda lalu kupergi
jauh...
api menjilatku tiada henti
menandukiku seolah akan mati
Sabtu, 06 Maret 2010
untuk yang berbahagia di februari ini
belum
semua ini belum berakhir...
karena detak ini masih ada
kau berlari...
kau berlari...
kau berlari...
dalam gelap
kutersungkur
dalamnya lagi kumenampar
memar...
ahh biasa...
biar luka ini tetap menganga
asal keangkuhanmu...
punah
semua ini belum berakhir...
karena detak ini masih ada
kau berlari...
kau berlari...
kau berlari...
dalam gelap
kutersungkur
dalamnya lagi kumenampar
memar...
ahh biasa...
biar luka ini tetap menganga
asal keangkuhanmu...
punah
untuk Gia binti Bachtiar
kakimu terpasung...
aduh...
ngilu...
kau muda
terlalu muda
untuk tergilas
nafas dan roda kehidupan
tahu?
ayahmu bergumam...
malang anakku
malang cintaku
tahu?
ayahmu dihempas debu
bernyanyi seribu lagu
tetapi tersumpal rindu
padamu...
muda...
kau terlalu muda
untuk mengerti
peluh ayahmu
tetapi kau tahu
dan pasti tahu
kelak...
ibukota menyiksamu
di sana kau hidup bebas dalam belukar
tetapi belum...
karena kau masih terpasung
semoga
kelak pun kau berkata
"terima kasih ayah"
aduh...
ngilu...
kau muda
terlalu muda
untuk tergilas
nafas dan roda kehidupan
tahu?
ayahmu bergumam...
malang anakku
malang cintaku
tahu?
ayahmu dihempas debu
bernyanyi seribu lagu
tetapi tersumpal rindu
padamu...
muda...
kau terlalu muda
untuk mengerti
peluh ayahmu
tetapi kau tahu
dan pasti tahu
kelak...
ibukota menyiksamu
di sana kau hidup bebas dalam belukar
tetapi belum...
karena kau masih terpasung
semoga
kelak pun kau berkata
"terima kasih ayah"
bencana alam
udara dan kabut selimuti dirinya
dan menghilang dalam sepi
kau adalah bencana
dan kau tidak peduli
mendengar pun tidak
berhenti...
jangan kau bernafas
tak perlu kau seka airmu
kau adalah bencana
sadarkan kami...
sadarpun kau tidak peduli
berhenti pun tidak
sampai semua selesai
punah kami tujuh turunan
karena kau adalah bencana
bencana alam...
kau adalah air menggenang
kau adalah gempa mengguncang
kau adalah api yang menjilat
kinipun kau tidak peduli
mendengarpun tidak
dan menghilang dalam sepi
kau adalah bencana
dan kau tidak peduli
mendengar pun tidak
berhenti...
jangan kau bernafas
tak perlu kau seka airmu
kau adalah bencana
sadarkan kami...
sadarpun kau tidak peduli
berhenti pun tidak
sampai semua selesai
punah kami tujuh turunan
karena kau adalah bencana
bencana alam...
kau adalah air menggenang
kau adalah gempa mengguncang
kau adalah api yang menjilat
kinipun kau tidak peduli
mendengarpun tidak
lakon kehidupan
kita hidup dalam pembubuhan lakon
persemaian jati diri
dari satu jadi seribu
wajah duka
wajah luka
menganga beraroma
busuk nanah dalam hati...
tanpa tawa yang kau buka
kehangatan dalam senyum
tak lagi kita percaya
kesadaran...
kepunahan hasrat toleran
kita hidup bukan lagi di rimbun
ketika terdesak
minta peri dan keajaibannya
tetapi kita adalah pencipta
keajaiban dalam lakon kehidupan
dan itu sudah cukup
lebih dari sekedar kepakan
persemaian jati diri
dari satu jadi seribu
wajah duka
wajah luka
menganga beraroma
busuk nanah dalam hati...
tanpa tawa yang kau buka
kehangatan dalam senyum
tak lagi kita percaya
kesadaran...
kepunahan hasrat toleran
kita hidup bukan lagi di rimbun
ketika terdesak
minta peri dan keajaibannya
tetapi kita adalah pencipta
keajaiban dalam lakon kehidupan
dan itu sudah cukup
lebih dari sekedar kepakan
ketenangan
ketenangan...
yang kudamba
hanya ketika terpejam
ketenangan...
karena kubenci lara
sebelum terseret temaram
kupikir tak akan seorang pun
aku, kamu, atau mereka?
tak akan dapat kecuali sesaat
pelarian kepada whiskey tak terasa
gele...
sesaat untuk binasa
saat terpaku
oleh takdir...
terpasung...
sungguh mengekang
ketenangan...
adakah nanti?
atau esok?
hingga senja datang...
nanti mudaku kuhabiskan dilaut
menjajal alam
atau merimbun bersajak
adakah rusukku yang bawa
atau pada lahadku
akan kutunggu
yang kudamba
hanya ketika terpejam
ketenangan...
karena kubenci lara
sebelum terseret temaram
kupikir tak akan seorang pun
aku, kamu, atau mereka?
tak akan dapat kecuali sesaat
pelarian kepada whiskey tak terasa
gele...
sesaat untuk binasa
saat terpaku
oleh takdir...
terpasung...
sungguh mengekang
ketenangan...
adakah nanti?
atau esok?
hingga senja datang...
nanti mudaku kuhabiskan dilaut
menjajal alam
atau merimbun bersajak
adakah rusukku yang bawa
atau pada lahadku
akan kutunggu
elegi
senyum kita palsu...
kau lebih-lebih...
air mata kita palsu...
tapi sayang kutak punya
haha
doa kita sama
"kuharap kau menjauh"
ini rasa jadi luka
dan kau yang punya perkara
tak satu yang kusesali
kecuali masa lalu
lalu... dan berlalu...
sekali lagi ini duka punya siapa?
kita diam...
dan itu juga palsu...
tetapi semua hanya masa lalu
kau lebih-lebih...
air mata kita palsu...
tapi sayang kutak punya
haha
doa kita sama
"kuharap kau menjauh"
ini rasa jadi luka
dan kau yang punya perkara
tak satu yang kusesali
kecuali masa lalu
lalu... dan berlalu...
sekali lagi ini duka punya siapa?
kita diam...
dan itu juga palsu...
tetapi semua hanya masa lalu
nafas pendek
nafas-nafas pendek
tersisa untuk kata-kata
lantang?
sekiranya tidak...
teduh
tak terik cahaya ini
suram?
mungkin tidak...
rasa ini tidak ada
karena dia...
iyakah?
kurasa tidak...
sampai jumpa
jiwa besar berpisah
jiwa kalah menengadah
deru angin
dan asap tinggal penghabisan...
tersisa untuk kata-kata
lantang?
sekiranya tidak...
teduh
tak terik cahaya ini
suram?
mungkin tidak...
rasa ini tidak ada
karena dia...
iyakah?
kurasa tidak...
sampai jumpa
jiwa besar berpisah
jiwa kalah menengadah
deru angin
dan asap tinggal penghabisan...
ALZHEIMER
aduhai langit malam
beserta taburannya
murnikanku dalam keharuan
dekatkanku dan lebih dengan Sang Pemberi nafas
sinapsis-sinapsis terputus dalam genggaman-Nya
lajuku berhenti lajumu juga
ingatkah dan masih akankah
Allah.....
yang selamanya kita sembah
dan untuk-Nya seluruh hidup kita dipersembahkan
sekarang atau lebih
kita harus pergi
karena tubuh ini panas dan semakin
bagai bara atau lebih
untuk itu mari angkat gelas
dan nikmati lagi
satu kecupan dari glukosa
beserta taburannya
murnikanku dalam keharuan
dekatkanku dan lebih dengan Sang Pemberi nafas
sinapsis-sinapsis terputus dalam genggaman-Nya
lajuku berhenti lajumu juga
ingatkah dan masih akankah
Allah.....
yang selamanya kita sembah
dan untuk-Nya seluruh hidup kita dipersembahkan
sekarang atau lebih
kita harus pergi
karena tubuh ini panas dan semakin
bagai bara atau lebih
untuk itu mari angkat gelas
dan nikmati lagi
satu kecupan dari glukosa
masih dahulu
masih kayu....
masih batu....
masih lumpur...
dan hampa yang terkoyak-koyak...
masih kamu...
masih juga jiwaku...
disini...
dipelataran rumah dan rasi biduk orion...
seperti dulu
aku ingin liar
seperti dulu
kau ingin disayang
saat nafas kita sama
bau kejujuran
saat tubuh kita sama
untuk menolak genggaman ini
aku rindu kau yang kurindukan
apa adanya
seperti dahulu...
masih batu....
masih lumpur...
dan hampa yang terkoyak-koyak...
masih kamu...
masih juga jiwaku...
disini...
dipelataran rumah dan rasi biduk orion...
seperti dulu
aku ingin liar
seperti dulu
kau ingin disayang
saat nafas kita sama
bau kejujuran
saat tubuh kita sama
untuk menolak genggaman ini
aku rindu kau yang kurindukan
apa adanya
seperti dahulu...
pulang
hutan tak lagi tanpa bangkai
disini...
didepan air mata para oportunis
kuingin pulang
kuhanya ingin pulang...
menghantarkan nyawa kepada Yang Kuasa
bersembunyi dibalik tabirNya
kuingin pulang...
tanpa lagu tentang duka
tanpa derita yang kau dendangkan
tanpa birama 1/2 ketukan
kuingin pulang
kuhanya ingin pulang...
menyusul ibuku yang tersayang
yang malangnya sudah diterjang
ibu...
aku pulang...
disini...
didepan air mata para oportunis
kuingin pulang
kuhanya ingin pulang...
menghantarkan nyawa kepada Yang Kuasa
bersembunyi dibalik tabirNya
kuingin pulang...
tanpa lagu tentang duka
tanpa derita yang kau dendangkan
tanpa birama 1/2 ketukan
kuingin pulang
kuhanya ingin pulang...
menyusul ibuku yang tersayang
yang malangnya sudah diterjang
ibu...
aku pulang...
bila kugila
kepada keluargaku
bila kumenggila
jangan dibelenggu
biarkan liar
buang ke hutan
mungkin hidup lekas dimulai
bila kujadi gila
hilang semua
lenyap dimakan bara
yang dulunya berapi-api
tiada ego
dinding bersembunyi
malupun sirna
lenyap semua tanggung jawab
bila kumenggila
jangan dibelenggu
biarkan liar
buang ke hutan
mungkin hidup lekas dimulai
bila kujadi gila
hilang semua
lenyap dimakan bara
yang dulunya berapi-api
tiada ego
dinding bersembunyi
malupun sirna
lenyap semua tanggung jawab
romansa
kau mengental dalam cuaca
tergambar dalam susana
legam tanpa jejak
lalu berlari sana-sini
menampar kanan-kiri
lihat...
jilat api
bakar nista dalam dada
kau semburkan lagi
dan lagi...
kekesalanmu pada putihnya tembok
kau hujamkan lagi
dan lagi...
pena dalam ilusi
romansa penuh luka
dengar...
gemertak beling
pecahan botol
binasa tersisa tanpa kata
tergambar dalam susana
legam tanpa jejak
lalu berlari sana-sini
menampar kanan-kiri
lihat...
jilat api
bakar nista dalam dada
kau semburkan lagi
dan lagi...
kekesalanmu pada putihnya tembok
kau hujamkan lagi
dan lagi...
pena dalam ilusi
romansa penuh luka
dengar...
gemertak beling
pecahan botol
binasa tersisa tanpa kata
Langganan:
Komentar (Atom)